MENERJEMAHKAN PERILAKU ALAM DALAM PELATIHAN ANALISIS DATA HIDROLOGI HUTAN

Anomaly iklim dan perubahan cuaca yang ekstrim sering dianggap sebagai penyebab meningkatnya kejadian bencana, seperti banjir, kekeringan dan longsor lahan. Sejatinya perubahan cuaca hanya pemicu saja, penyebab utamanya adalah kerusakan lingkungan yang masif akibat penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan akibat cara kelola sumberdaya alam yang tidak tepat. Kerusakan ekosistem hutan oleh pembalakan liar, kebakaran, dan alih fungsi lahan telah terbukti menjadi pemicu berbagai kejadian bencana hidrologi. Berbagai usaha pemulihan hutan telah dilakukan melalui kegiatan reboisasi, rehabilitasi, hingga restorasi ekosistem meski dampak hidrologi masih terus dirasakan.

Kewajiban sertifikasi pengelolaan hutan lestari dalam pergagangan kayu global juga menuntut perlunya monitoring pengelolaan sumberdaya air (water management) di kawasan hutan produksi.  Pelaporan kegiatan monitoring dan evaluasi perubahan hidrologi (neraca air) menjadi salah satu instrumennya. Pengelolaan air (water management) menjadi aspek penting dalam kelestarian dan kelangsungan proses produksi.  Pada kawasan gambut dengan karakteristik hidrologi yang spesifik juga perlu mendapat perhatian penting terkait dengan isu-isu kelestarian sumberdaya alam. Untuk memenuhi kebutuhan data hidrologi tersebut, perlu adanya instrumentasi pendukung yang dilengkapi alat-alat dan tenaga pengamat dan analis data yang handal.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan menerjemahkan perilaku alam sebagai rujukan perencanaan dan pengelolaan sumberdaya hutan tersebut, sebanyak 27 peserta mengikuti Pelatihan Pengelolaan dan Analisis Data Hidrologi Hutan untuk Pengelolaan Sumberdaya Air yang diseleggarakan oleh Laboratorium Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Fakultas Kehutanan UGM. Mereka berasal dari 19 unit-unit bisnis berbasis konsesi penggunaan lahan seperti IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, Perkebunan Sawit, dan Restorasi Ekosistem di Indonesia.  Kegiatan pelatihan dilakukan selama lima hari tanggal 06-10 November 2017 dengan pemateri para pakar dari Fakultas Kehutanan dan Fakultas Grografi UGM. Materi kelas disampaikan di Ruang Multimedia, Fakultas Kehutanan UGM dan praktek lapangan diselenggarakan di wilayah Kecamatan Cangkringan dan Sungai Tambak Boyo Kabupaten Sleman, Pantai baros dan Hutan Pinus Becici Kabupaten Bantul serta di Hutan Pendidikan Wanagama Kabupaten Gunungkidul. Materi praktek meliputi pengukuran debit aliran dan suspensi, pengamatan stasiun monitoring hidrometeorologi dan erosi, dan pengukuran infiltrasi, serta pemodelan data hidrologi untuk pengelolaan sumber daya air.(Humasfkt)