
Wanagama – Suasana semarak mewarnai Wanagama pada Sabtu pagi, saat Museum Wanagama resmi dibuka. Hibah dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) ini telah melalui proses pembangunan sejak September 2022. Acara peresmian ini menandai babak baru dalam upaya pelestarian dan edukasi mengenai keanekaragaman kayu di Indonesia.
Acara dibuka dengan laporan dari Direktur KHDTK Wanagama I, Ir. Rini Pujiarti, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPM. Dalam laporannya, Rini menyebutkan bahwa gedung museum ini merupakan hibah dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan nilai hibah sebesar Rp 1,9 miliar. Hibah tersebut berupa satu unit bangunan gedung, satu unit toilet, dan satu paket pengembangan lanskap museum. Selain itu, museum ini juga dilengkapi dengan fasilitas berupa ruang rapat, ruang edukasi dan belajar, serta area outbond yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk belajar lebih dalam tentang pentingnya pelestarian alam dan budaya.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU, menyampaikan bahwa pengembangan Museum Wanagama telah melalui perjalanan panjang. Ia pun mengajak seluruh pihak untuk turut berkolaborasi dalam konservasi dan pengelolaan hutan. Harapannya, dengan adanya Museum Wanagama, kesadaran akan pentingnya kelestarian alam semakin meningkat dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Dr. Ir. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., IPU. serta pemotongan pita. Dalam sambutannya, Prof. Satyawan Pudyatmoko menyampaikan bahwa museum ini menjadi cerminan jati diri Fakultas Kehutanan. “Para perintis memilih Wanagama yang bukan dari hutan yang sudah siap, melainkan berasal dari lahan kritis, dan bukan untuk memperkaya diri. Tetapi, untuk menunjukkan bahwa Fakultas Kehutanan menjadi solusi bagi masalah yang ada di sekelilingnya. Spirit inilah yang harus kita pelihara terus-menerus,” ujarnya.
Turut hadir dalam acara ini antara lain :
- Sekretaris Ditjen KSDAE, Dr. Ir. Ammy Nurwati, MM.
- Kepala Balai KSDA Yogyakarta dan jajarannya
- Dekan dan jajaran wakil dekan Fakultas Kehutanan UGM
- Perwakilan Pemkab Gunungkidul (DLH)
- Kepala Desa (Banaran, Gading, Bunder, Ngleri)
- Perwakilan Badan Musyawarah Museum DIY
- Bapak Fernando Marpaung (K5L UGM)
- Pengelola Yayasan Oemi Hani’in, KHDTK Wanagama I, dan Museum Wanagama
- Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul
- Banyumanik Research Center
Tentang Museum Wanagama
Museum Wanagama terdiri dari dua lantai dengan konsep yang berbeda. Lantai pertama menampilkan koleksi tiga dimensi berupa spesimen kayu dari berbagai daerah di Indonesia, serta pemanfaatan kayu dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, lantai dua mengusung konsep tematik yang akan berubah secara periodik. Pada periode pembukaan ini, lantai dua menampilkan pameran poster film yang memanfaatkan Wanagama sebagai lokasi syuting.
Museum Wanagama didirikan dengan tujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat umum tentang berbagai jenis kayu dan cara pemanfaatannya. Museum ini memiliki koleksi berbagai jenis kayu dari seluruh Indonesia, termasuk kayu-kayu langka dan endemik. Selain itu, museum ini juga memiliki koleksi fosil kayu yang berusia ratusan hingga jutaan tahun.
Museum Wanagama diharapkan dapat menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik bagi masyarakat, khususnya bagi pelajar dan mahasiswa. Dengan adanya museum ini, diharapkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi sumber daya alam dapat meningkat, sehingga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati di Indonesia dapat terjaga untuk generasi mendatang.
Penulis dan Dokumentasi : Zulva Ulin Nuha