• UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Languages
Universitas Gadjah Mada Fakultas Kehutanan
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Visi dan MIsi
    • Kelembagaan Fakultas
    • Sejarah dan Perkembangan
    • Staff Pendidik
  • Akademik
    • Sistem Pendidikan
    • Departemen
    • Sistem Kredit Semester
    • BUKU PANDUAN AKADEMIK
  • KEMAHASISWAAN
    • KEMAHASISWAAN
    • LEM
    • PPSMB Pelestari
  • Penelitian dan Publikasi
    • Berita Penelitian dan Publikasi
    • Penelitian
    • Publikasi
    • Kekayaan Intelektual
    • Jangka Benah
  • Pengabdian Masyarakat
    • Pengabdian Dosen
    • Kerja Sama
    • WANAGAMA
    • KHDTK NGANDONG-GETAS
  • Beranda
  • News
  • page. 22
Arsip:

News

Talk Show “Politik Perdagangan Internasional: Pangan, Pasar dan Hutan?” Webinar #5 Dies Natalies Fakultas Kehutanan UGM

NewsRilis Friday, 9 October 2020

(8/10) Pusat Kajian Sejarah dan Kebijakan Kehutanan (Sebijak Institute) Fakultas Kehutanan UGM melaksanakan kegiatan Talkshow dalam rangkaian kegiatan Dies Natalies Fakultas Kehutanan UGM yang ke-57. Kegiatan talkshow ini dilaksanakan pada Hari Kamis, 8 Oktober 2020 dengan judul tema “Politik Perdagangan Internasional: Pangan, Pasar dan Hutan?”.

Kegiatan talkshow ini dibuka oleh sambutan dari Wakil Bidang Kerjasama dan Alumni Fakultas Kehutanan UGM, Dr. rer. Silv. Muhammad Ali Imron, S.Hut., read more

Mosaik Lanskap Berkelanjutan: Jalan Rekonsiliasi untuk Menurunkan Laju Deforestasi, Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi : Rangkaian Webinar seri ke 4 Dies Natalis ke-57 Fakultas Kehutanan UGM

NewsRilis Friday, 2 October 2020

Webinar seri ke-4 dalam rangka Dies Natalis ke-57 fakultas Kehutanan diselenggarakan pada (1/10) dengan topik bahasan “Mosaik Lanskap Berkelanjutan: Jalan Rekonsiliasi untuk Menurunkan laju Deforestasi, Meningkatkan Ketahanan pangan dan Mmepertahankan Pertumbuhan Ekonomi. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan dengan Tim Strategi Jangka Benah FKT UGM. Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 dibuka oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM (Dr. Budiadi, S.Hut., M.Agr.Sc.), kemudian dipandu oleh Dr. Ari Susanti, S.Hut., M.Sc. (Dosen Fakultas Kehutanan UGM) sebagai moderator. Acara yang berlangsung secara daring ini menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, diantaranya adalah Ir. KRT H. Darori Wonodipuro, MM. (Anggota Komizi IV DPR RI), Dr. Ir. Musdalifah Machmud, M.T. (Deputi II, Kemenko Perekonomian RI), dan Dr. Ir. RA. Belinda Arunarwati Margono, M.Sc (Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, Ditjen PKTL, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Pembahas dalam webinar ini yaitu Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko (Kepala Pusdi Agroekologi dan Sumberdaya Lahan UGM, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM), dan Riki Frindos, CESGA, CAIA (Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI).

Sesi paparan pertama disampaikan oleh Ir. KRT Darori Wonodipuro tentang “Omnibus Law: mungkinkah menjadi jalan rekonsiliasi untuk menurunkan laju deforestasi, meningkatkan ketahanan pangan, dan mempertahankan pertumbuahan ekonomi?”. Dalam pemaparannya, Beliau menyampaikan bahwa penutupan kawasan hutan yang diatur dalam peraturan pemerintah harus dengan tegas untuk diterapkan baik di Indonesia, karena hal ini dilakukan untuk menghalau deforestasi berupa alih fungsi lahan. Selain itu, saat ini arah pengelolaan kawasan hutan yaitu pada ketahanan pangan yang dapat disuplai oleh sektor kehutanan melalu produksi hasil hutan non kayu. Lebih lanjut lagi beliau menyampaikan bahwa dalam penataan kawasan hutan terkait omnibus law, sanksi-sanksi administrative maupun pidana terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh perseorangan maupun korporasi diakomodasi pada undang-undang yang digodog oleh pemerintah.

Pemaparan kedua disampaikan oleh Dr. Ir. Musdalifah Machmud, M.T. (Deputi II bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kemenko Perekonomian RI) tentang Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan Melepaskan Keterkaitan antara Pertumbuhan Ekonomi, Ketahanan pangan dengan Degradasi Lingkungan. Beliau menyampaikan bahwa pembangunan saat ini berdasarkan SDGs yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan juga lingkungan. Kebertimbangan antara seluruh aspek ini merupakan kondisi yang harus dicapai oleh Indonesia guna menggapai tujuan dari SDGs. Paparan beliau menekankan bahwa sektor pertanian dalam Pertumbuhan PDB Indonesia semakin bertumbuh dan menjadi sektor tumbuh yang tertinggi. Dukungan ini datang dari subektor pangan, perkebunan, hortikultura, dan jasa pertanian. Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Berdasarkan Sektor khussunya dari Sumberdaya Alam terbarukan termasuk Kehutanan mencapai 14%. Dalam paparan ini, dibahas tentang arah kebijakan pemerintah dalam hal ketahanan pangan dan ruang hutan yang terdiri dari moratorium lahan sawit, perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B), UU 41 tahun 1999 tentang kehutanan (*luas kawasan hutan minimum yang harus dipertahanakan Pemprov), serta replanting tanaman perkebunan+mix farming.

Pemaparan ketiga disampaikan oleh Dr. Ir. R.A. Belinda Arunarwati Margono, M.Sc (Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan, dan Tata Lingkungan, KLHK). Beliau menampilkan perubahan luas penutupan hutan selama 3 dekade khususnya tentang deforestasi, dan data kehutanan. Beliau menampilkan data kehutanan yang valid untuk digunakan dalam perencaanan kawasan sesuai dengan peruntukannya. Lebih lanjut, beliau menampilkan luas tutupan hutan di Indonesia tahun 2019 yang terdiri dari hutan dan non hutan, lebih spesifik lagi pada klasifikasi tutupan lahan sesuai standar nasional Indonesia. Beliau juga menyampaikan bahwa Instrumen ekonomi lingkungan hidup merupakan seperangkat kenbijakan ekonomi untuk mendorong pemerintah, pemerintah daerah atau setiap orang kea rah pelestarian fungsi lingkungan hidup (( UU32/2009 dan PP 46/2017). Pengelolaan hutan dilakukan secara baik namun tidak merusak kondisi lingkungan. Saat ini sektor kehutanan Indonesia pun telah berkomitmen untuk menurunkan Emisi gas Rumah Kaca (GRK) dengan target 29% unconditional, dan 41% conditional di tahun 2030. Disampaikan pula bahwa saat ini arah kebijakan yang harus dilakukan seharusnya berada apda tahap intensifikasi, tidak terus menerus ekstensifikasi.

Materi webinar dapat diunduh di tautan berikut: https://drive.google.com/drive/folders/1CloOYDvNcYiH71iDNSnrdR1A_gb65V-d?usp=sharing

e-Sertifikat Webinar #3 Dies Natalis Ke-57 Fakultas Kehutanan UGM

EventNewsRilis Thursday, 24 September 2020

Berikut kami sampaikan e-sertifikat webinar #3 Dies Natalis Ke-57 Fakultas Kehutanan UGM. Silahkan cari nama Bapak/Ibu dalam kolom pencarian atau dapat dicari secara manual.

Strategi Rehabilitasi untuk Peningkatan Produktivitas Lahan dan Ketahanan Pangan Nasional: Webinar #3 Dies Natalies Fakultas Kehutanan UGM

NewsRilis Thursday, 24 September 2020

Edisi ke-3 webinar dalam rangka Dies Natalies Fakultas Kehutanan yang ke-57 membahas topik yang berjudul,” Strategi Rehabilitasi untuk Peningkatan Produktivitas Lahan dan Ketahanan Pangan Nasional”. Kegiatan yang diprakarsai Pusat Kajian Silvikultur Intensif Fakultas Kehutanan UGM ini diadakan pada hari Kamis, 24 September 2020. Kegiatan webinar ketiga ini dibuka oleh sambutan Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Budiadi yang kemudian dipandu oleh fasilitator, Dr. Ir. TA Adriyanti (dosen Fakultas Kehutanan UGM).

Paparan materi pertama disampaikan oleh Ir. Hudoyo, MM yang menyampaikan mengenai Strategi Rehabilitasi Lahan dan Ketahanan Pangan Nasional. Beliau menyampaikan bahwa tupoksi utama dari Dirjen PDASHL salah satunya adalah merehabilitasi lahan dan hutan kritis di Indonesia sebelum mampu berkontribusi pada ketahanan pangan nasional. Untuk melaksanakan rehabilitasi hutan dan lahan telah diterbitkan berbagai strategi seperti regulasi yang mendukung mitigasi degradasi lahan, peningkatan kesadaran dan Pendidikan, peningkatan iptek serta pengembangan kapasitas pembangunan. Lebih spesifik lagi beliau menyampaikan bahwa Rehabilitas Hutan dan Lahan saat ini juga harus menjangkau Kawasan padat penduduk agar benar-benar mampu menjadi penobang ketahanan pangan di masyarakat.

Pemaparan kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Suryo Hardiwinoto dari Fakultas Kehutanan UGM yang menyampaikan mengenai Implementasi Silvikultur Intensif untuk Meningkatkan Produktivitas Hutan dan Ketahanan Pangan. Beliau menyampaikan kembali mengenai pentingnya mengembalikan produktivitas hutan di lahan terdegradasi di Indonesia yang tercatat di tahun 2018 sebesar 14 Juta Hektar. Rehabilitasi hutan dan lahan dapat dilaksanakan dengan mengimplementasikan silvikultur intensif untuk mengembalikan produktivitas lahan agar pada akhirnya dapat mendukung ketahanan pangan. Praktek baik yang mengimplementasikan silvikultur intensif dan intensifikasi tanaman pangan dilakukan melalui program IFFS (Integrated Forest Farming System).

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Dr. Jangkung Handoyo Mulyo dari Fakultas Pertanian UGM dengan topik Strategi Penguatan Ketahanan dan Kemandirian Pangan Masyarakat Desa Hutan. Beliau menekankan bagaimana ketahanan pangan nasional merupakan tantangan yang besar bagi Indonesia. Beberapa tantangan tersebut adalah dari aspek kurangnya sumber daya manusia yang ada di sektor pertanian, kebutuhan pangan perkapita Indonesia yang sangat besar hingga ketergantungan impor yang tinggi (10-15%). Dari beragam tantangan tersebut, kontribusi sektor kehutanan dipandang sangat dibutuhkan dan perlu dibarengi strategi yang tepat. Agroforestry adalah salah satu strategi yang sering digunakan untuk membangun hutan melalui kegiatan pertanian. Skema dari pemerintah melalui perhutanan sosial salah satunya seperti hutan desa memungkinkan pemanfaatan hasil hutan non-kayu yaitu tanaman pangan dapat ditujukan untuk mendukung kontribusi hutan untuk ketahanan pangan masyarakat. Beliau menekankan untuk mendukung ketahanan pangan di sektor kehutanan diperlukan sinergi antar sektor termasuk dengan pertanian agar dapat berhasil.

Link materi webinar ketiga ini dapat diunduh melalui:
https://drive.google.com/drive/folders/1Sw37A0VykevKWLeMOv9RbeXXiq6SHPw2?usp=sharing

e-Sertifikat Webinar #2 Dies Natalis Ke-57 Fakultas Kehutanan UGM

EventNewsRilis Thursday, 17 September 2020

Berikut kami sampaikan e-sertifikat webinar #2 Dies Natalis Ke-57 Fakultas Kehutanan UGM. Silahkan cari nama Bapak/Ibu dalam kolom pencarian atau dapat dicari secara manual.

Kontribusi Perhutanan Sosial untuk Kedaulatan Pangan Indonesia: Webinar #2 Dies Natalies Fakultas Kehutanan UGM

NewsRilis Thursday, 17 September 2020

(17/9) Pusat Kajian Hutan Rakyat Fakultas Kehutanan UGM melaksanakan kegiatan Webinar dalam rangkaian kegiatan Dies Natalies Fakultas Kehutanan UGM yang ke-57. Kegiatan webinar yang kedua ini dilaksanakan di Hari Kamis, 17 September 2020 dengan judul tema Kontribusi Perhutanan Sosial untuk Kedaulatan Pangan Indonesia.

Kegiatan dibuka oleh sambutan Dr. Muhammad Ali Imron (Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian dan Kerjasama Fakultas Kehutanan UGM) yang menyampaikan bahwa perhutanan sosial sebagai salah satu mekanisme dalam mendukung kedaulatan pangan nasional.Kemudian acara inti dilanjutkan oleh paparan narasumber yang dipandu oleh fasilitator Dr. Wahyu Wardhana yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pusat Kajian Hutan Rakyat (PKHR) yang baru.

Paparan pertama disampaikan oleh Prof. Dr. San Afri Awang (Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM) yang juga merupakan penasihat senior di Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Beliau menyampaikan mengenai kebijakan perhutanan sosial untuk mendukung ketahanan pangan. Dari skema PS dan TORA berpotensi menyumbang lahan seluas 2.7 juta Hektar dengan jumlah produksi hingga 11 ton. Untuk realisasi hal tersebut namun perlu memenuhi beberapa faktor pemungkin. Faktor pemungkin tersebut antara lain kepastian hukum perijinan PS kepada petani hutan; fasilitasi tata kelola sosial, produksi, kelembagaan, pemodalan dan pemasaran yang pasti; Harga padi yang menguntungkan petani; kecukupan air untuk tanaman pertanian; serta kebijakan pemerintah yang secara khusus yang memperbolehkan penanaman tanaman pangan dengan jangka waktu serta kerjasama antar institusi.

Selanjutnya paparan disampaikan oleh Dr. Sanudin, S,Hut. M.Sc (Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry Ciamis) yang menyampaikan bagaimana potensi perhutanan sosial dalam mendukung ketahanan pangan melalui agroforestry. Lebih lanjut Dr. Sanudin menyampaikan berbagai inovasi melalui intervensi ilmiah terhadap sistem/ praktek agroforestry yang sudah ada dapat dilakukan untuk memperoleh keuntungan lebih besar. Contohnya adalah dengan agrisilvikultur yang memadukan pohon MPTS (multi purpose tree species) dan tanaman bawah yang berhasil dikembangkan di Nusa Tenggara.


Acara webinar kemudian dilanjutkan oleh Siti Fikriyah Khuriyati, S.H., M.Si (Ketua Umum Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial indonesia). Beliau menyampaikan bagaimana perhutanan sosial sebagai upaya kompromi dalam menyelesaikan konflik lahan yang ada dengan masyarakat sekitar hutan. GEMA PS telah berhasil memfasilitasi masyarakat mendapatkan kepastian hukum melalui advokasi dan pemberdayaan organisasi, individu dan pengetahuan.

Paparan terakhir kemudian disampaikan oleh Sasmita Nugroho, SE (Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor Ditjen PKTL KLHK) mengenai daya dukung ketersediaan air nasional untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Daya dukung air sangat penting untuk mengetahui potensi produksi pangan nasional.

Materi webinar #2 oleh PKHR ini dapat diunduh di: https://drive.google.com/drive/folders/1_QwI7QrHWNG8fNTY0MOvHC1N6EZJGNVf

e-Sertifikat Webinar #1 Dies Natalis Ke-57 Fakultas Kehutanan UGM

EventNewsRilis Friday, 11 September 2020

Berikut kami sampaikan e-sertifikat webinar #1 Dies Natalis Ke-57 Fakultas Kehutanan UGM. Silahkan cari nama Bapak/Ibu dalam kolom pencarian atau dapat dicari secara manual.

Transformasi Pengelolaan Hutan untuk mendukung Ketahanan Pangan Nasional: Webinar #1 Dies Natalies ke-57 Fakultas Kehutanan UGM

NewsRilis Thursday, 10 September 2020

Fakultas Kehutanan UGM membuka rangkaian kegiatan Dies Natalies ke-57 dengan sesi webinar dengan topik, “Ketahanan Pangan dan Hutan: “Transformasi Pengelolaan Hutan Menjelang Indonesia Maju di 2045”. Acara webinar ini diselenggarakan pada hari Kamis, 10 September 2020 melalui platform Zoom dan dengan jumlah pendaftar lebih dari 300 orang.

Acara webinar dibuka dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM yang memaparkan pentingnya dan bagaimana potensi kehutanan dalam ikut mendukung ketahanan pangan nasional. Acara inti webinar dilanjutkan dengan paparan dari para narasumber yang ahli di bidangnya dan difasilitatori oleh Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko (Guru Besar Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan UGM).

Narasumber pertama adalah Prof. Dr. Ir. Sigit Hardwinarto (Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan) dengan paparan yang berjudul, “Kebijakan strategis, pembelajaran, dan kedudukan pengembangan pangan dalam grand design pembangunan kehutanan dalam mendukung visi Indonesia 2045”. Beliau menyampaikan bagaimana kebijakan yang sedang dilaksanakan dalam mengalokasikan Kawasan hutan dalam mensinergikan antara pentingnya ekologis hutan serta kepetingan sosial serta ekonomi nasional.

Narasumber kedua adalah Dr. Ir. Agung Hendriadi, M. Eng. (Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian) dengan paparannya yang berjudul,” Konsepsi, Status dan Arah Kebijakan Mengenai Ketahanan, Kemandirian, Kedaulatan dan Keanekaan Pangan dalam kerangka visi Indonesia Menjadi Lumbung Pangan Dunia di 2045”. Disampaikan bahwa Indonesia saat ini menargetkan peningkatan ketahanan pangan dan menurunkan kerentanan pangan oleh karena itu sinergi dengan sektor kehutanan sebagai kontributor sumber daya lahan sangat dibutuhkan. Kawasan perhutanan sosial memiliki potensi untuk dapat mendukung ketahanan pangan nasional. Masa pandemi COVID ini juga menjadi tantangan ketahanan pangan nasional. Pemerintah kemudian merumuskan berbagai program untuk peningkatan ketersediaan pangan di era normal baru seperti peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan lokal, penguatan cadangan dan sistem logistic pangan serta pengembangan pertanian modern.

Narasumber selanjutnya adalah Prof. Dr. Ir. Mohammad Na’iem, M.Agr.Sc. (Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM) yang memberikan presentasi berjudul,” Praktik baik integrasi budidaya tanaman pangan dan pengelolaan hutan serta rekomendasi arah pengelolaan hutan untuk menjawab tantangan target pembangunan 2045”. Beliau menyampaikan pendekatan yang telah berhasil dilaksanakan di lapangan dalam mensinergikan antara tanaman hutan dengan pangan seperti IFFS (Integrated Forest Farming System). Lebih lanjut lagi beliau menekankan bahwa produktivitas hutan menjadi kunci terwujudnya kelestarian hutan serta sekaligus keamanan dan kedaulatan pangan nasional.

Narasumber terakhir adalah Dr. Jamhari, SP, M (Dekan Fakultas Pertanian UGM) yang membawakan paparan dengan topik, “Perspektif Pertanian terhadap kehutanan dalam kerangka visi Indonesia Menjadi Lumbung Pangan Dunia di 2045”. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia memerlukan perubahan yang luar biasa dari kondisi ketahanan pangan saat ini menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Kebijakan dari sisi demand dan supply juga diperlukan perubahan luar biasa termasuk perubahan persepsi mengenai pentingnya pangan lokal dalam pemenuhan demand yang akan berimbas ke sisi supply. Sektor kehutanan merupakan sektor penting dalam menyangga kebutuhan ekologis dalam menjamin sisi supply.

Sesi paparan presentasi narasumber kemudian ditutup oleh bahasan dari Dr.Ir. Agus Setyarso yang memberikan gambaran secara makro dan global mengenai kondisi dunia saat ini dan yang akan datang. Indonesia pada dasarnya sangat menjanjikan untuk dapat menjadi lumbung pangan dunia dengan berbagai hal yang perlu dilakukan. Indonesia juga perlu menyikapi tantangan yang akan timbul seperti tantangan sumberdaya dan teknologi.

Materi Narasumber Webinar #1 ini dapat diunduh di:
https://drive.google.com/drive/folders/1tony8j1zNOPXQEpdjdTUr7EqAHrUbemp?usp=sharing

The Misinterpreted Forest, Seri Seminar Daring  Forestry And Environment

NewsRilis Wednesday, 19 August 2020

Lebih dari 126 juta hektar terdaftar pada peta resmi Indonesia sebagai hutan. Komposisi hutan tersebut tersusun dari berbagai macam bentuk ekologi yang disebabkan oleh keanekaragaman hayati Indonesia dan juga dari sejarah suatu wilayah. Kita ketahui bersama bahwa sebagai negara bekas jajahan pasti ada peninggalan dari penjajah yang membekas hingga sekarang, salah satunya mengenai pemahaman mengenai hutan. Selain karena pengaruh dari kolonial Belanda, hutan Indonesia telah dipengaruhi oleh rezim internasional, dan juga ada yang mengatakan sebagai hutan politik dengan ciri tertentu. Namun, pada era sekarang, definisi hutan menjadi hal yang harus dipikirkan kembali, karena perspektif terus berkembang dengan keadaan yang ada sekarang ini. Hal itulah yang telah dibahas pada Seminar Online yang diadakan oleh Fakultas Kehutanan UGM pada Kamis (13/8) melalui media Zoom, dengan topik “The Misinterpreted Forest”.

Pemaparan materi oleh Micah R. Fisher, Ph.D. mengenai topik utama seminar online kali ini, the misinterpreted forest.

Seminar online kali ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dengan kerja sama antara Fakultas Kehutanan, UGM dan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies). Seminar ini menjadi bentuk kerja sama yang pertama antara Fakultas Kehutanan, UGM dan AIFIS. Kemudian, karena merupakan bentuk kerja sama dari dua lembaga, maka narasumber seminar juga ada dua, yaitu Prof. Dr. Ahmad Maryudi dari Fakultas Kehutanan dan Micah R. Fisher, Ph.D perwakilan dari AIFIS. Moderator dalam seminar online kali ini adalah Emma Soraya, S.Hut., M.Sc., Ph.D., beliau adalah dosen di Fakultas Kehutanan, UGM yang menekuni bidang Sistem Informasi Spasial dan Pemetaan Hutan. Seminar diikuti oleh 98 peserta dari berbagai lembaga. “Harapannya dari seminar ini dapat menambah nuansa keilmuan baru mengenai kehutanan dan lingkungan, serta secara tidak langsung meningkatkan kapasitas kemampuan dari para peserta”, kata Dr. Muhammad Ali Imron selaku wakil dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja sama Fakultas Kehutanan, UGM dalam sambutan pembukaan seminar kali ini.

Seminar online diawali dengan pengantar mengenai topik seminar oleh Emma Soraya, S.Hut., M.Sc., Ph.D.. Beliau menyampaikan bahwa topik kali ini sangat unik, karena selama ini kita menganggap bahwa semua orang memiliki definisi yang sama tentang hutan. Memasuki sesi inti seminar, dimana sesi inti dimulai dari pemaparan materi oleh Micah R. Fisher, Ph.D, kemudian diikuti sesi pembahasan oleh Prof. Dr. Maryudi. Dalam penyampaian materi, Micah memaparkan riwayat penelitian yang dilakukan di Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Beliau melakukan penelitiannya selama 21 bulan, bahkan sampai terlibat langsung dalam pembuatan peraturan desa mengenai hutan adat di Kajang – peraturan desa pertama mengenai pengakuan hutan adat di Indonesia. Dari penelitian tersebut, Micah menyarankan empat tipologi untuk memahami hutan sebagaimana dengan yang dialami secara relasional melalui perspektif lokal, yaitu sebagai state forests, nurturing forests, exploitable forests, and sacred forests. Dengan memusatkan interpretasi hutan dan kehutanan dari perspektif lokal tersebut, Micah menyarankan sudut pandang yang berbeda untuk memikirkan kembali masalah terkait kehutanan di Indonesia. “Kalau perspektif lokal sering dilupakan, apa implikasinya pada sistem kelola hutan di Indonesia?”, tambah Micah pada akhir presentasi.

Prof. Maryudi sedang memaparkan opininya terhadap materi yang disampaikan oleh Micah R. Fisher.

Pada sesi pembahasan oleh Prof. Dr. Ahmad Maryudi, beliau mengatakan bahwa definisi yang diungkapkan oleh Pak Micah itu sangat menarik, karena ketika kita memandang hutan dari sudut pandang negara masih belum me-elaborasikan masyarakat dan institusi lokal dalam suatu lanskap hutan. Definisi hutan Indonesia dan banyak negara lainnya memang cenderung pada rezim pemanfaatan, namun ada fenomena baru yang menarik di hutan Indonesia, dimana ada suatu klaim yang disebut hutan rakyat, akan tetapi memang saat ini hutan rakyat belum di-akomodir secara penuh oleh negara. Prof. Maryudi juga mengkritisi tipologi hutan yang disampaikan Micah, dimana terdapat ambiguitas pada nurturing forests dan exploitable forests yang sebenarnya mirip dengan hutan dari sudut pandang rezim pemanfaatan, dimana memang diadopsi pemerintah hingga sampai saat ini. Menurut Prof. Maryudi, ada hal menarik, jika memungkinkan dalam mengategorikan hutan dapat didasarkan pada komposisi bio-fisiknya ataupun dari konteks proximity – kedekatan dengan pemukiman. “Jika cara pandang negara dan lokal bisa di-overlapkan akan menarik berkaitan dengan tren baru yaitu social forestry, yang mana kita tahu semua bahwa kita masih terbatas pada rezim produksi, lindung, dan konservasi, dan dari penelitian Micah, ini mungkin bisa menjadi peluang kita untuk mengetahui cara pandang lokal terhadap hutan, “ tambah Prof. Maryudi.

Seminar ditutup dengan pernyataan penutup dari Micah dan Prof. Maryudi, yang mana mereka setuju dengan berbagai sudut pandang hutan dan jika bisa kita bisa menyikapi berbagai perbedaan cara padang itu maka dapat menjadi kunci upaya promosi pengelolaan hutan yang baik dan adil. “Bahwa sekarang memang banyak kasus dan konflik, karena kita kurang sabar untuk duduk bersama mendefinisikan hutan supaya tidak terjadi mis-interpretasi, dan diskusi ini bisa menjadi “pancingan” supaya kita lebih terbuka dan tidak dirugikan dengan salah satu pihak, “ tambah Emma pada sesi penutupan acara.

Link untuk rekaman webinar: https://youtu.be/7UqtkGJwbA0

Silvikultur Intensif untuk rehabilitasi lahan terdegradasi

NewsRilis Friday, 14 August 2020

Hutan tropis Indonesia mempunyai kekayaan flora dan fauna yang tinggi dan merupakan asset yang harus dipertahankan dan dilestarikan guna mendukung kehidupan yang baik di masa mendatang. Disamping itu banyak lahan-lahan di Indoesia yang terdegradasi sehingga perlu adanya rehabilitasi dengan pendekatan silvikultur intensif (SILIN) agar nilai lahan tersebut terus meningkat baik secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Berkenaan dengan hal tersebut Pusat Kajian Silvikultur Intensif hutan Tropis Indonesia dibentuk agar dapat berkontribusi secara positif untuk meningkatkan kualitas lahan terdegradasi dan kelestarian hutan. Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Dr. Sapto Indrioko Ketua Panitia Seminar Daring yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Silvikultur Intensif Hutan Tropis Indonesia (PK SILIN) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada pada Rabu, 12 Agustus 2020. Berkenaan dengan hal tersebut PK SILIN Hutan Tropis Indonesia menyelenggarakan seminar daring secara serial dengan topik jenis-jenis potensial untuk mendukung pengelolaan hutan lestari.

 

Pada Seminar daring seri pertama ini mengambil tema “Pembangunan hutan tanaman Pinus merkusii untuk mendukung pengembangan produksi kayu dan hasil hutan bukan kayu (HHBK)”. Seminar daring menghadirkan menghadirkan 3 pembicara, yaitu 1. Prof Dr. Moh. Na’iem dengan paparan berjudul “Strategi Pemuliaan Pinus merkusii untuk Mendukung Pengembangan Produksi Kayu dan Getah”, 2. Dr. Musyafa dengan judul “Perlindungan Hama dan Penyakit Terpadu pada Pinus merkusii” dan 3. Dr. Sigit Sunarta dengan judul “Rendemen Serta Kualitas Gondorukem dan Tarpentim Getah Pinus merkusii”.

Pada seminar daring ini diketahui bahwa pemuliaan Pinus merkusii telah dikembangkan sejak tahun 1976 dengan mengkoleksi 1000 pohon plus pinus yang tersebar diseluruh wilayah hutan alam dan tanaman pinus di Indonesia. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Fakultas Kehutanan UGM, Perum Perhutani dan Ditjen RLPS Departemen Kehutanan. Pada fase awal pemuliaan pinus dilakukan untuk menghasilkan pohon yang berkualias baik secara fenotipiknya, demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Moh. Na’iem. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa perkembangan pemuliaan pinus merkusii dilakukan dengan memilih pohon-pohon yang menghasilkan getah > 50 gr/pohon/3 hari pengambilan. Pendekatan ini telah dilakukan sejak tahun 2004 dan sudah sampai tahap pengujian klon-klon pinus bocor getah di lapangan. Senada dengan hal tersebut, Dr. Sigit Sunarta menyampaikan bahwa pemilihan pinus bocor getah dihatrapkan akan mendorong peningkatan produksi getah pinus, sehingga Indonesia bias bersaing di pasar global dan dapat menjadi pengekpor getah pinus dan produk turunannya terbesar di dunia. Untuk itu selain pendekatan pemilihan pohon induk pinus bocor getah maka diperlukan pendekatan teknik penyadapan yang tepat baik menggunakan system bor maupun menggunakan stimulant. Akan tetapi capaian penemuan klon bocor getah tersebut diharapkan ditanam dapat pola pertanaman multi klon dan atau dicampur dengan species lain. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalkan serangan hama penyakit yang dapat menyerang tanaman Pinus, demikian disampaikan oleh Dr. Musyafa. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa pendekatan pengendalian hama penyakit terpadu pada tanaman pinus diharapkan dapat berkontribusi positif untuk menghasilkan tanaman pinus yang sehat dan produktif.

Selanjutnya secara berturut-turut PK Silin akan menggelar diskusi berikutnya dalam rangkaian seminar sebagai berikut : seri 2 mengambil tema  perhutanan klon jati, seri 3  dengan tema tantangan dan peluang pengembangan hutan rakyat, seri 4 dengan tema optimasi pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk mendukung industri pulp dan kayu pertukangan dan seri 5 bertema pengelolaan hutan alam tropis untuk mendukung kelestarian produksi dan perlindungan ekosistem. Diskusi tersebut dapat diikuti melalui aplikasi Zoom dan channel youtube Fakultas Kehutanan yaitu Kehutanan ugm atau melalui link:  https://www.youtube.com/channel/UCsO1IKEROrXv_mueCxRv6ew

Lebih lanjut, Dr. Sapto Indrioko selaku ketua PK Silin Hutan Tropis Indonesia, menyampaikan bahwa diskusi serial ini diharapkan mampu mendorong semaraknya kajian terhadap species-species komersial yang penting di Indonesia serta mendorong kajian-kajian yang komprehensif dan berkontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan sumberdaya hutan Indonesia.

1…2021222324…28
Universitas Gadjah Mada

FAKULTAS KEHUTANAN
Universitas Gadjah Mada
Jl. Agro No. 1 Bulaksumur Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 512102, 6491420 Fax. (0274) 550541
Email: fkt@ugm.ac.id

UNIVERSITY ADMISSION

  • SNMPTN
  • SBMPTN
  • PBUTM
  • UTUL

DEPARTMENT

  • Forest Management
  • Forest Product Technology
  • Silviculture
  • Forest Resource Conservation

Informasi Publik

  • Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

© FKT - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju