Ngawi – Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar Praktik Rencana Usaha Kehutanan (PRUK) tahun 2025 di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) DIKLATHUT Blora–Ngawi. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua gelombang: Gelombang I pada 8–20 Juli 2025 dan Gelombang II pada 22 Juli–3 Agustus 2025, diikuti oleh 282 mahasiswa Program Sarjana Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2023 semester 4, dengan rincian 142 peserta di Gelombang I dan 140 peserta di Gelombang II.

PRUK merupakan elemen penting dalam Kurikulum 2022 Prodi Kehutanan UGM yang menggabungkan teori dan praktik lapangan. Tujuannya, membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis dan sintesis untuk merumuskan keputusan pengelolaan hutan produksi secara lestari melalui penyusunan Rencana Usaha Kehutanan (RUK). Unit kelestarian sasaran praktik kali ini adalah Klaster Hutan Wengkon Desa (HWD).
Sebagai bagian dari pembelajaran lapangan, mahasiswa tidak hanya berkegiatan di Kampus KHDTK Getas, tetapi juga menginap selama 4 hari 3 malam di 12 HWD, yaitu: Tlogotuwung, Gempol, Cantel, Pitu, Ngancar, Kalang, Dumplengan, Papungan, Nglebak, Nginggil, Bodeh, dan Mendenrejo. Tiap gelombang dibagi menjadi 16 kelompok yang tersebar di lokasi-lokasi tersebut untuk melakukan pengumpulan data, pengamatan tegakan, wawancara dengan masyarakat desa hutan, hingga evaluasi infrastruktur dan penyusunan strategi pengelolaan.

Selain praktik teknis kehutanan, PRUK 2025 juga memberikan wawasan industri melalui kunjungan lapangan ke sektor pengolahan hasil hutan. Mahasiswa mengunjungi Pabrik Industri Kayu Banjarejo untuk mempelajari proses pengolahan Hasil Hutan Kayu (HHK). Untuk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), mahasiswa berkunjung ke PMKP (Pabrik Minyak Kayu Putih) dan PGT (Pabrik Gondorukem dan Terpentin) di Ponorogo. Kegiatan ini menjadi sarana penting untuk memahami rantai pasok, teknologi pengolahan, serta nilai tambah hasil hutan di tingkat industri.
Kegiatan PRUK 2025 juga menghadirkan narasumber eksternal. Tim Penegakan Hukum (GAKKUM) Kementerian Kehutanan memberikan materi Perlindungan Hutan, sementara Perum Perhutani KPH Ngawi membawakan materi Perbenihan, Persemaian, Pembuatan Tanaman Hutan, Pemeliharaan Tanaman dan Penjarangan, Pemanenan Hasil Hutan, TPK dan Kunjungan Industri Kayu dan Non Kayu.

Selain itu, rangkaian kegiatan mencakup praktik lapangan seperti perbenihan, penanaman, penjarangan, penebangan, penatausahaan kayu, pengolahan hasil hutan kayu dan non-kayu, penataan areal kerja, inventarisasi sosial ekonomi, serta aspek konservasi jasa lingkungan. Di tahap akhir, mahasiswa mempresentasikan hasil analisis dan menyerahkan dokumen RUK sebagai luaran utama praktik.
Dr. Ir. Tri Atmojo, S.Hut., MT., IPU., Direktur KHDTK DIKLATHUT UGM, menegaskan bahwa PRUK adalah sarana penting pembentukan kompetensi rimbawan masa depan.
“Mahasiswa belajar mengelola hutan dari hulu ke hilir. Mereka melihat langsung kondisi lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, hingga mengelola data untuk menjadi keputusan yang realistis,” ujarnya.
Ir. Muhammad Reza Pahlevi, S.Pd., M.Si., Ketua PRUK 2025, menambahkan bahwa keberagaman lokasi praktik memberi pengalaman berharga.
“Setiap HWD memiliki karakteristik biofisik dan kondisi sosial ekonomi yang berbeda, sehingga mahasiswa dituntut untuk belajar beradaptasi, berpikir kritis, dan menyusun strategi pengelolaan yang sesuai dengan kondisi lapangan sesuai dengan kelompoknya masing-masing,” terangnya.
Melalui PRUK 2025, Fakultas Kehutanan UGM meneguhkan komitmennya mencetak lulusan yang berintegritas, menguasai IPTEK kehutanan tropis, berjiwa kepemimpinan, serta mampu mengelola sumber daya hutan secara produktif dan berkelanjutan.
Penulis: Dela Bintang W
Dokumentasi: Dela Bintang W