
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (FKT UGM) berpartisipasi dalam kegiatan penanaman bersama menggunakan media seed ball untuk rehabilitasi lahan pasca bencana longsor di Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Jumat, 27 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan ekosistem dan pengurangan risiko bencana di kawasan terdampak.
Sebagaimana diketahui, pada 24 Januari 2026 sekitar pukul 02.30 WIB, terjadi tanah longsor besar di wilayah Cisarua akibat hujan deras yang turun secara terus-menerus. Peristiwa tersebut mengakibatkan sedikitnya 80 orang meninggal dunia dan 20 orang lainnya dilaporkan hilang. Sebanyak 53 rumah mengalami kerusakan berat dan tertimbun material longsor. Bencana ini menegaskan pentingnya pendekatan rehabilitasi berbasis ekosistem untuk memulihkan stabilitas lereng dan fungsi hidrologis kawasan.
Kegiatan penanaman kembali ini melibatkan berbagai unsur pemerintah pusat dan daerah, antara lain Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jawa Barat, Kepala BPDAS Cimanuk Citanduy, Kadivre Perhutani Jawa Barat–Banten, serta Administratur KPH Bandung Utara.
Tim Drone Fakultas Kehutanan UGM turut berperan dalam proses penyebaran seed ball menggunakan drone “Si Rebo”. Drone ini dikembangkan sebagai inovasi untuk mendukung kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di area yang sulit dijangkau atau memiliki risiko tinggi. Melalui dukungan teknologi tersebut, sebanyak 1.000 butir seed ball yang berisi benih vetiver (Chrysopogon zizanioides), ekaliptus (Eucalyptus sp.), dan johar (Senna siamea) disebarkan pada lahan seluas 1 hektar.
Pemilihan jenis tanaman tersebut mempertimbangkan fungsi ekologisnya, terutama dalam memperkuat struktur tanah, mempercepat penutupan lahan, serta meningkatkan daya serap air pada lereng bekas longsor. Vetiver dikenal memiliki sistem perakaran dalam dan rapat yang efektif menahan erosi, sementara ekaliptus dan johar berperan dalam percepatan revegetasi dan pemulihan tutupan vegetasi.

Pendekatan seed ball berbasis drone memungkinkan distribusi benih secara lebih merata, cepat, dan aman pada area yang memiliki tingkat kerentanan tinggi. Metode ini juga meminimalkan risiko keselamatan bagi petugas di lapangan, terutama pada kondisi topografi yang tidak stabil pascabencana.
Kegiatan ini mencerminkan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan hutan dalam mendukung rehabilitasi hutan dan lahan secara kolaboratif. Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada penanaman kembali, tetapi juga pada penguatan fungsi lindung kawasan sebagai bagian dari sistem daerah aliran sungai yang berperan dalam mengurangi potensi bencana hidrometeorologis di masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Kehutanan UGM menegaskan komitmennya dalam mendukung pengelolaan daerah aliran sungai yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus berkontribusi langsung dalam penanganan dampak bencana alam di Indonesia.
Penulis : Satriagasa
Dokumentasi : Tim drone FKT UGM