
Gunungkidul – Yayasan Oemi Hani’in berkolaborasi dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah melaksanakan proyek revitalisasi Museum Kayu Wanagama. Langkah strategis ini diinisiasi untuk menyelamatkan bangunan bersejarah peninggalan Prof. Oemi Hani’in dan mengembangkannya menjadi bagian dari kawasan terpadu untuk pendidikan, pelatihan agroforestri, serta wisata edukasi.
Ketua Yayasan Oemi Hani’in, Prof. Budiadi, menjelaskan bahwa Museum Kayu memiliki nilai sejarah yang panjang, berawal dari sumbangan dua unit rumah dinas Kemantren dari alumni Perhutani yang kemudian digabung menjadi satu atas inisiasi Prof. Oemi. “Fokus utama revitalisasi ini adalah menyelamatkan bangunannya, karena gedung museum itu sendiri adalah artefak atau peninggalan sejarah,” tegas Prof. Budiadi pada Kamis (30/4/2026). Ia menambahkan bahwa keberadaan museum ini membuktikan bahwa struktur dan bangunan berbahan dasar kayu sangat layak dipertahankan sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan perumahan masyarakat.

Saat ini, pengerjaan difokuskan pada tahap awal dengan target penyelesaian sekitar satu bulan ke depan, menyesuaikan ketersediaan tenaga kerja dan batasan pendanaan. Target jangka pendek yayasan adalah memastikan bangunan tersebut mencapai standar layak dan aman untuk digunakan. Revitalisasi ini sangat krusial karena sebelumnya perawatan bangunan kayu menelan biaya besar dan sering dianggap sebagai pusat biaya (cost-centric) karena belum dimanfaatkan secara optimal.

Inisiatif Yayasan Oemi ini mendapat apresiasi penuh dari pimpinan fakultas. Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan SDM Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Kaharuddin, S.Hut., M.Si., menyebut langkah yayasan sebagai sesuatu yang luar biasa dalam merawat sejarah dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Kaharudin memaparkan bahwa ke depannya, Museum Kayu tidak akan berdiri sendiri, melainkan akan diintegrasikan ke dalam pengembangan lanskap Petak 16 Wanagama. Kawasan terpadu ini nantinya akan meliputi berbagai fasilitas, antara lain:
- Keberadaan Museum Kayu dan fasilitas Pawon Alas.
- Area rekreasi di pinggir Sungai Oyo dan Dome Wanagamapaksi.
- Pengembangan silvopastura ternak kambing dan protein unggas.
- Area persemaian.
“Seluruh area ini nantinya menjadi satu lanskap yang akan kita kelola secara terintegrasi,” ungkap Kaharudin. Kawasan Petak 16 ini direncanakan menjadi pusat pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan agroforestri terpadu, yang memadukan unsur kehutanan, peternakan, hingga pariwisata.
Potensi pengembangan wisata edukasi ini sangat besar mengingat lokasi Petak 16 yang sangat strategis, berada tepat di jalan utama yang menjadi titik tengah perlintasan antara Kota Yogyakarta dan kawasan pantai-pantai di Gunungkidul. Hal ini menjadikannya lokasi ideal sebagai tempat istirahat (rest area) sekaligus objek edukasi lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum.
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, pemanfaatan bangunan dan kawasan ke depannya akan melibatkan kolaborasi dengan berbagai mitra terkait. “Ini merupakan bagian dari upaya menjadikan Wanagama sebagai percontohan pengembangan kawasan dengan melibatkan berbagai mitra untuk bersinergi. Tidak mungkin kita bekerja sendiri dalam situasi saat ini,” pungkas Kaharudin.
Penulis : Zulva – Wanagama