
Yogyakarta — Kuliah Umum dan Diskusi Publik Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 bertajuk “Krisis Ekologis dan Tata Kelola Sumber Daya Alam: Dalam Lingkaran Setan Bencana Ekologi” sukses diselenggarakan pada Selasa, 28 April 2026, di Auditorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan KEHATI bersama Biodiversity Warriors (BW) Yayasan KEHATI dan CDC UGM, serta didukung berbagai komunitas seperti Komunitas Banyu Bening, Komunitas Ngargoretno Magelang, LPTP Sragen, Komunitas Bulaksalak, dan Mapagama UGM.
Partisipasi Peserta
Acara ini menargetkan 100 peserta, dengan komposisi 64 mahasiswa dari Fakultas Kehutanan UGM maupun fakultas lain yang melakukan registrasi, serta 36 peserta undangan dari berbagai instansi dan latar belakang.
Tujuan Kegiatan
Diskusi publik ini bertujuan untuk:
- Mendiseminasikan temuan utama IEO 2026 kepada akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lokal
- Mengidentifikasi krisis nexus air–pangan–energi–hutan di wilayah DIY dan Jawa Tengah
- Membangun dialog akademis lintas sektor terkait akar krisis ekologis
- Mengangkat praktik baik dari komunitas dalam menjaga lanskap
- Mendorong dialog antara komunitas, akademisi, dan pemerintah daerah
- Merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis konteks lokal

Jalannya Diskusi
Kegiatan dibuka dengan sesi registrasi peserta dan pembukaan oleh MC, termasuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari perwakilan Universitas Gadjah Mada dan Yayasan KEHATI.
Sesi berikutnya diisi oleh Muhamad Burhanudin selaku penyusun IEO 2026 yang memaparkan temuan utama laporan tersebut. Paparan berjudul “IEO 2026: Dalam Lingkaran Bencana Tata Kelola Alam: Nexus Hutan, Pangan, Air, dan Energi” ini menjadi landasan bagi diskusi yang berlangsung sesudahnya.
Sesi Panel Diskusi Multi Perspektif kemudian berlangsung dengan dimoderatori oleh Dr. Mochamad Danang Anggoro, dosen Fakultas Kehutanan UGM. Diskusi berjalan dinamis dengan menghadirkan berbagai perspektif dari komunitas, pemerintah, hingga akademisi.
Sejumlah pembicara memaparkan pengalaman dan kajian mereka, di antaranya:
- Wahyuningsih dari Komunitas Banyu Bening Yogyakarta yang mengangkat isu krisis air akibat eksploitasi air tanah dan pentingnya gerakan konservasi berbasis komunitas
- Soim dari Komunitas Ngargoretno Magelang yang menyoroti praktik ekowisata dan pertanian berbasis lanskap di lereng
- Niken Prihartari dari LPTP Sragen yang menjelaskan agroforestry sebagai solusi integratif antara produksi pangan dan perlindungan hutan
- Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup DIY, Lilik Norvi Purhartanto, S.Hut., M.Sc., yang membahas kebijakan lingkungan daerah dalam menghadapi krisis nexus

Perspektif Akademik dan Hukum
Dr. Hatma Suryatmojo mengulas tata kelola lanskap dan ancaman bencana hidrometeorologi di Pulau Jawa, serta urgensi transformasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Ia menekankan bahwa degradasi lanskap yang terus berlangsung tanpa intervensi kebijakan yang memadai akan semakin memperparah kerentanan wilayah Jawa terhadap bencana ekologis. Oleh karena itu, pendekatan berbasis sains dinilai krusial sebagai pijakan dalam merancang kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Penutup
Melalui forum ini, berbagai pihak sepakat bahwa krisis ekologis tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Sebelum ditutup, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Diskusi Interaktif (Q&A) selama 30 menit. Sesi ini mencakup tanya jawab langsung dengan peserta, pendalaman isu-isu lokal di wilayah DIY dan Jawa Tengah, serta penggalian rekomendasi kebijakan yang relevan dengan konteks daerah. Dibutuhkan kolaborasi erat antara komunitas lokal, akademisi, dan pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang adaptif dan berkelanjutan.

Diskusi ini menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran kolektif sekaligus merumuskan solusi konkret berbasis kondisi lokal dalam menghadapi tantangan krisis lingkungan di Indonesia.
Penulis: Dani L, Mapagama UGM, Biodiversity Warriors UGM
Dokumentasi: Andy K, Mapagama UGM, Biodiversity Warriors UGM