
BLORA/NGAWI (02/03/2026) – Tim Lapangan BPLDH FOLU IP Fakultas Kehutanan UGM (Getas) telah melaksanakan penanaman target tahun 2025 di dua lokasi, yaitu HWD Cantel (Kabupaten Ngawi) dan HWD Nglebak (Kabupaten Blora). Penanaman ini menggunakan pola Integrated Forestry and Farming System (IFFS) yang diterapkan di kedua lokasi, serta pola Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dikhususkan pada HWD Cantel.
Penerapan pola IFFS dengan kerapatan 600 pohon/hektar ini bertujuan untuk meningkatkan cadangan karbon pada lahan sekaligus mendukung pencapaian ketahanan pangan melalui integrasi tanaman kehutanan dan pertanian. Rangkaian kegiatan di dalamnya meliputi sosialisasi penanaman dan konsep IFFS kepada petani penggarap, penyiapan lahan, serta proses penanaman itu sendiri.
Spesies yang ditanam merupakan jenis tanaman multifungsi (MPTS) yang dipilih secara strategis:
- Jati (untuk tujuan hasil kayu)
- Kaliandra (sebagai penghasil pakan ternak)
- Alpukat (sebagai penghasil buah)
- Kayu Putih (sebagai penghasil minyak atsiri)
- Tanaman pertanian sela berupa jagung (sebagai penghasil pangan)

Fokus lain dari kegiatan ini adalah aksi mitigasi perubahan iklim melalui pengembangan komoditas EBT di dalam kawasan hutan. Pendekatan ini diarahkan untuk meningkatkan cadangan karbon sekaligus menyediakan sumber energi alternatif yang berkelanjutan. Jenis tanaman energi yang dikembangkan meliputi Nyamplung (Calophyllum inophyllum) dan Kepuh (Sterculia foetida), yang dikenal memiliki potensi besar sebagai bahan baku biofuel nabati.
Kedua spesies ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada lahan marjinal, toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang subur, serta mampu tumbuh pada wilayah dengan tingkat degradasi lahan yang tinggi. Selain menghasilkan biji yang dapat diolah menjadi bahan bakar nabati, sistem perakaran dan tajuk kedua jenis ini dapat mendukung peningkatan biomassa, sehingga berkontribusi terhadap cadangan karbon jangka panjang.
Melalui pengelolaan silvikultur yang tepat, kegiatan ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan tutupan vegetasi dan produktivitas lahan. Dari sisi mitigasi, pemanfaatan biofuel berbasis nyamplung dan kepuh berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sehingga menekan emisi gas rumah kaca dari sektor energi.
Penulis: Maulida Muhadini
Dokumentasi: Ahmad Shidiq Septiawan & Ahmad Ilham Setiawan
Editor:Budi Mulyana & Satriagasa