
Dari 245 responden, sebanyak 188 orang bekerja sebagai karyawan dan 9 orang berwirausaha — total 197 orang atau sekitar 80% yang sudah aktif di dunia kerja. Sebanyak 17 orang melanjutkan studi, sementara 28 orang masih mencari pekerjaan.
Rata-rata masa tunggu lulusan untuk mendapatkan pekerjaan pertama adalah 3,6 bulan (berdasarkan 208 responden). Yang menonjol, 29,33% langsung bekerja sebelum atau tepat saat wisuda, dan 33,17% mendapat pekerjaan dalam 1–3 bulan. Artinya, lebih dari 62% lulusan sudah bekerja dalam tiga bulan setelah lulus.
Perusahaan swasta mendominasi penyerapan lulusan dengan 94 orang — hampir separuh dari total yang bekerja. Instansi pemerintah di posisi kedua (40 orang), disusul nonprofit/LSM (17), wiraswasta mandiri (13), BUMN/BUMD (10), dan lainnya (19). Yang patut dicatat, 5 lulusan berhasil bergabung dengan organisasi multilateral internasional, mencerminkan daya saing alumni di kancah global.
Sebanyak 57,71% lulusan menyatakan pekerjaannya relevan atau sangat relevan dengan studi kehutanan (N = 201). Namun, 26,37% merasa kurang atau tidak relevan — sebuah catatan penting untuk evaluasi kurikulum. Jika kelompok “cukup relevan” (15,92%) turut diperhitungkan, total yang masih memiliki keterkaitan dengan bidang studi mencapai 73,63%.
Data yang dikumpulkan melalui survei ini merupakan informasi yang penting bagi institusi pendidikan untuk memahami sejauh mana lulusannya berhasil menjalani kehidupan profesional setelah menyelesaikan studi. Secara keseluruhan, hasil Tracer Study ini menunjukkan gambaran yang cukup positif mengenai kesiapan lulusan S1 Kehutanan UGM dalam memasuki dunia kerja. Angka penyerapan yang tinggi dan masa tunggu yang singkat menjadi indikator daya saing lulusan. Ke depan, peningkatan relevansi pekerjaan dengan bidang studi perlu menjadi fokus evaluasi kurikulum dan penguatan kemitraan industri.
Penulis: Hairi Cipta
Editor : Budi Mulyana