GUNUNGKIDUL – Upaya peningkatan produktivitas hutan rakyat terus digenjot melalui sinergi multisektor. Pada Jumat, 11 September 2026, lebih dari 100 petani hutan yang tergabung dalam berbagai Kelompok Tani Hutan (KTH) Kabupaten Gunungkidul mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Wanagama I. Pelatihan ini turut diikuti oleh anggota JAVLEC yang hadir dan berperan aktif sebagai pendamping bagi kelompok-kelompok tani hutan tersebut.
Kegiatan yang berfokus pada teknik perbanyakan vegetatif dan pengelolaan tegakan jati ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara International Tropical Timber Organization (ITTO), Kementerian Kehutanan, dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Pelatihan ini dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan lapangan sekaligus meningkatkan kapasitas kemandirian petani hutan.
Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan, Bapak Ade Mukadi, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa inisiatif ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari kerangka program yang lebih besar.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi proyek ITTO yang terdiri dari empat kegiatan utama, yakni sertifikasi, pelatihan silvikultur jati, agroforestri, serta penatausahaan hutan,” papar Ade. Ia menambahkan, pendekatan komprehensif ini bertujuan mengembangkan potensi hutan rakyat dalam penyediaan bahan baku kayu, sekaligus memberikan jaminan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Ade menyoroti realita bahwa penanaman jati di area hutan rakyat masih berhadapan dengan berbagai kendala dasar. Tantangan tersebut meliputi kualitas bahan tanaman, penguasaan teknik perbanyakan, tata kelola persemaian, hingga manajemen pengelolaan tegakan yang belum ideal untuk bisa menghasilkan produk kayu berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi.
Sejalan dengan visi tersebut, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Ir. Widiyatno, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., menyambut positif dan mendukung penuh terselenggaranya pelatihan ini di fasilitas kampus.
“Harapannya, tentu kegiatan ini bisa menjadi bekal (praktis) bagi petani tentang bagaimana mengembangkan tanaman jati dengan lebih baik,” ungkap Prof. Widiyatno.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur KHDTK Wanagama I, Dr. Ir. Johanes Pramana Gentur Sutapa, M.Sc.Forest.Trop., turut memberikan sambutan yang memotivasi para petani. Beliau merefleksikan sejarah perjuangan Wanagama yang bermula dari lahan kritis dengan permukaan bebatuan gersang, hingga kini berhasil direhabilitasi menjadi hutan yang lebat dan subur.
Dr. Gentur menekankan bahwa profesi petani hutan memiliki dimensi spiritual dan sosial yang sangat luar biasa. “Selain diharapkan mendapatkan produk hasil hutan (secara ekonomi), para petani juga memiliki peran yang sangat mulia. Melalui pohon-pohon yang ditanam, Bapak dan Ibu sejatinya sedang memberikan sodakoh (sedekah) oksigen bagi kehidupan, yang mana nilainya sangat mahal” tutur Dr. Gentur, mengingatkan peserta akan dampak ekologis dari jerih payah mereka.
Untuk memastikan materi tepat sasaran, pelatihan ini dikemas melalui penyampaian teori di dalam ruangan dan observasi praktik di lapangan. Pada sesi pertama, para petani dibekali materi bertajuk “Materi Unggul untuk Meningkatkan Produktivitas Hutan: Kebun Pangkas dan Persemaian” yang disampaikan secara komprehensif oleh Ir. Sawitri, S.Hut., M.Sc., Ph.D. Sesi teori kemudian dilanjutkan dengan pendalaman materi “Pengelolaan Tegakan Jati” oleh Dr. Rika Bela Rahmawati, S.Hut.

Antusiasme peserta memuncak saat sesi dialihkan ke lapangan. Peserta diajak mengunjungi fasilitas persemaian Wanagama dan melihat langsung operasional kebun pangkas yang dikembangkan sebagai sumber benih unggul jati melalui metode stek pucuk.

Di lokasi ini, petani tidak sekadar menjadi pengamat. Mereka diberi kesempatan untuk melakukan praktik secara langsung, mulai dari pemanenan pucuk jati dari area kebun pangkas hingga teknik penanaman pucuk pada bedengan di area berpenaung (shading area). Sebagai lanjutan dari rangkaian pelatihan, peserta juga mempraktikkan manajemen tegakan tingkat lanjut berupa pemangkasan cabang (pruning) langsung di area tegakan Jati Mega milik Wanagama.

Melalui kombinasi pengetahuan akademis dan keterampilan taktis di lapangan ini, kapasitas kelompok tani hutan diharapkan meningkat secara signifikan, yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan ekonomi petani dan lestarinya potensi hutan rakyat di masa depan.
Penulis: Zulva U
Dokumentasi : Zulva U, Pasha A
Editor : Budi Mulyana