Kuala Lumpur, Malaysia, 26 Juni 2026 – Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Hermudananto, berpartisipasi dalam Asia-Pacific Regional Meeting of Members of FSC International 2026 yang diselenggarakan oleh FSC Asia Pacific di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 24–26 Juni 2026. Dalam forum tersebut, Hermudananto hadir sebagai International Member FSC yang mewakili Environmental Chamber – South, bersama para anggota FSC dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik yang berjumlah lebih dari 100 peserta.
Pertemuan regional ini menjadi forum strategis yang mempertemukan anggota FSC untuk memperkuat kolaborasi, bertukar pengalaman, serta mendiskusikan berbagai isu prioritas dalam mendukung pengelolaan hutan yang bertanggung jawab dan rantai pasok hasil hutan yang berkelanjutan. Selama tiga hari pelaksanaan, peserta membahas berbagai tantangan dan peluang pengelolaan hutan di kawasan Asia Pasifik, mulai dari konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, penguatan peran masyarakat lokal dan masyarakat adat, hingga implementasi sertifikasi FSC di berbagai negara.
Keikutsertaan Hermudananto mencerminkan kontribusi aktif sivitas akademika Fakultas Kehutanan UGM dalam forum internasional yang berperan dalam pengembangan tata kelola kehutanan global. Melalui keterlibatan tersebut, pengalaman Indonesia dalam pengelolaan hutan lestari, implementasi sertifikasi, serta pengembangan kapasitas di bidang kehutanan turut menjadi bagian dari diskusi yang memperkaya perspektif regional.
Salah satu agenda utama dalam pertemuan ini adalah FSC Global Strategy Round Table, yaitu forum yang memberikan kesempatan kepada para anggota FSC kawasan Asia Pasifik untuk memberikan masukan terhadap penyusunan FSC Global Strategy 2027–2032. Diskusi ini menjadi bagian penting dari proses penyusunan strategi global FSC yang mengedepankan prinsip pengambilan keputusan secara inklusif, transparan, dan berbasis konsensus antaranggota.
Forum tersebut menghimpun pengalaman kolektif para anggota FSC dalam bidang pengelolaan hutan, konservasi, pemberdayaan masyarakat, sertifikasi, serta ekonomi berbasis kehutanan. Beragam pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam merumuskan prioritas regional yang akan berkontribusi terhadap arah kebijakan dan strategi global FSC untuk lima tahun mendatang.

Selain pembahasan strategi global, peserta juga mengikuti diskusi mengenai revisi FSC Principles, Criteria and Indicators (PCI) yang merupakan landasan utama dalam penerapan sertifikasi FSC Forest Management di seluruh dunia. Dalam sesi ini, anggota FSC dari berbagai negara berbagi pengalaman implementasi di lapangan, menyampaikan tantangan yang dihadapi di masing-masing wilayah, serta memberikan masukan strategis terhadap penyempurnaan standar.
Berbagai perspektif yang disampaikan mencerminkan keberagaman kondisi sosial, ekonomi, dan ekologi di kawasan Asia Pasifik. Melalui proses yang partisipatif tersebut, revisi standar diharapkan mampu mempertahankan kredibilitas FSC sekaligus meningkatkan relevansi implementasinya terhadap dinamika pengelolaan hutan yang terus berkembang.
Hermudananto menyampaikan bahwa forum regional seperti ini memiliki peran penting dalam menjembatani pengalaman lokal dengan kebijakan global.
“Keberlanjutan pengelolaan hutan tidak dapat dicapai oleh satu negara atau satu organisasi saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas sektor, dan lintas perspektif agar solusi yang dihasilkan mampu menjawab tantangan global sekaligus tetap relevan dengan kondisi lokal. Forum ini menjadi ruang yang sangat berharga untuk saling belajar, berdialog, dan berkontribusi dalam penyusunan arah kebijakan kehutanan dunia,” ujarnya.
Partisipasi dosen Fakultas Kehutanan UGM dalam forum internasional ini menunjukkan komitmen fakultas dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, jejaring internasional, serta tata kelola kehutanan yang berkelanjutan. Keterlibatan akademisi dalam proses penyusunan strategi dan standar internasional juga menjadi wujud nyata kontribusi Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pengelolaan sumber daya hutan yang ramah lingkungan, memberikan manfaat sosial, dan layak secara ekonomi sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.
Penulis: Hermudananto
Editor : M. Chrisna Satriagasa