Yogyakarta, 7 Juli 2026 – Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi membuka The 10th International Forestry Summer Course (FSC) 2026 secara daring pada Selasa (7/7). Mengusung tema Forest for Life: Managing Ecosystem Services in a Changing Climate, program ini mempertemukan peserta dari 22 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika untuk memperdalam pemahaman tentang pengelolaan hutan berkelanjutan sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Rohmat Marzuki, S.Hut. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi Fakultas Kehutanan UGM yang telah konsisten menyelenggarakan Forestry Summer Course selama satu dekade sebagai wadah pembelajaran dan kolaborasi internasional di bidang kehutanan. Menurutnya, tema Forest for Life: Managing Ecosystem Services in a Changing Climate sangat relevan dengan tantangan global saat ini, ketika perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta degradasi lingkungan semakin dirasakan di berbagai belahan dunia.
Ia menegaskan bahwa hutan merupakan salah satu solusi berbasis alam (nature-based solutions) yang paling efektif dalam menghadapi perubahan iklim karena berperan menyerap karbon, mengatur tata air, melestarikan keanekaragaman hayati, sekaligus menopang kehidupan masyarakat. Mengakhiri sambutannya, Rohmat Marzuki mengajak seluruh peserta memanfaatkan program ini tidak hanya untuk belajar, tetapi juga membangun jejaring dan kolaborasi internasional. “Climate change knows no boundaries, and neither should our commitment to protecting forests,” pesannya sebelum secara resmi membuka The 10th International Forestry Summer Course 2026.
Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan Universitas Gadjah Mada oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM, serta pemaparan profil Fakultas Kehutanan oleh Dekan Fakultas Kehutanan, Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU. Menurutnya, pengelolaan hutan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada produksi kayu, tetapi juga pada penyediaan berbagai jasa ekosistem, seperti pengaturan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, perlindungan sumber daya air, serta kontribusinya terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Ia berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan ilmiah, tetapi juga perspektif baru melalui pertukaran pengalaman lintas negara dan lintas disiplin ilmu.

Ketua Panitia, Ir. Ni Putu Diana Mahayani, S.Hut., M.For., Ph.D., kemudian memperkenalkan rangkaian kegiatan Forestry Summer Course 2026 yang akan berlangsung selama dua pekan.
Penyelenggaraan Forestry Summer Course tahun ini didukung melalui Hibah Inovasi dan Internasionalisasi Akademik melalui Kursus Singkat Bidang Unggulan Lintas Disiplin Skema EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition). Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya Universitas Gadjah Mada dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan melalui penyelenggaraan program akademik bertaraf internasional sekaligus meningkatkan reputasi UGM di tingkat global.
Melalui dukungan hibah tersebut, Forestry Summer Course 2026 berhasil menghadirkan sekitar 40 mahasiswa internasional yang mengikuti program secara daring maupun luring dengan skema transfer kredit akademik. Program ini juga melibatkan 12 dosen internasional, 10 dosen Indonesia, serta berbagai profesional dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan organisasi di bidang kehutanan dan lingkungan, sehingga menciptakan atmosfer akademik yang kaya melalui interaksi lintas negara dan lintas disiplin.
Tahun ini, Forestry Summer Course diikuti oleh mahasiswa dan akademisi dari 22 negara yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Selama dua pekan pelaksanaan program, peserta akan mengikuti kuliah dari akademisi dan praktisi internasional, diskusi kelompok, pembelajaran lapangan di Hutan Pendidikan Wanagama dan Taman Nasional Gunung Merapi, serta proyek kolaboratif yang dirancang untuk memperkaya perspektif mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan.
Pada hari pertama, peserta mengikuti dua kuliah yang mengangkat isu konservasi keanekaragaman hayati dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Kuliah pertama bertajuk “Biodiversity Conservation in Indonesia” disampaikan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., IPU. Dalam paparannya, Prof. Satyawan menjelaskan bahwa konservasi keanekaragaman hayati merupakan pondasi penting dalam menjaga keseimbangan sistem bumi (planetary boundaries). Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas dunia serta berbagai strategi konservasi nasional, mulai dari perlindungan spesies, restorasi ekosistem, pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, hingga penguatan partisipasi masyarakat melalui pendekatan citizen science.
Selanjutnya, Dr. Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.Sc. dari Fakultas Pertanian UGM menyampaikan kuliah berjudul “Impact of Climate Change on Cocoa Production and Adaptation Strategies in Indonesia.” Menggunakan komoditas kakao sebagai studi kasus, ia menjelaskan bagaimana perubahan suhu dan pola curah hujan mulai memengaruhi produktivitas pertanian di Indonesia. Peserta juga diperkenalkan pada berbagai strategi adaptasi, seperti penerapan sistem agroforestri, peningkatan keragaman ekosistem, serta konservasi tanah dan air sebagai pendekatan yang lebih tangguh dibandingkan dengan sistem budidaya monokultur dalam menghadapi perubahan iklim.
Selain mengikuti sesi akademik, peserta berkesempatan saling mengenal melalui kegiatan Participants Introduction yang difasilitasi oleh International Forestry Students’ Association (IFSA). Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman mengenai kondisi kehutanan di negara masing-masing sekaligus membangun jejaring internasional yang akan terus dikembangkan selama program berlangsung. Hari pertama kemudian ditutup dengan pembagian kelompok internasional serta penugasan refleksi sebagai bagian dari proses pembelajaran kolaboratif.
Melalui penyelenggaraan The 10th International Forestry Summer Course 2026, Fakultas Kehutanan UGM kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi dan mendorong kolaborasi global di bidang kehutanan. Dukungan melalui skema EQUITY diharapkan semakin memperluas kontribusi UGM dalam membangun jejaring akademik internasional, meningkatkan kualitas pendidikan, serta menghasilkan kolaborasi yang mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan di tingkat global.
Penulis: Satriagasa
Editor: Budi Mulyana
Foto: tim dokumentasi Forestry Summer Course 2026