
Yogyakarta, 8 Juli 2026 — Memasuki hari kedua penyelenggaraan The X International Forestry Summer Course (FSC) 2026, peserta dari berbagai negara mengikuti rangkaian kuliah yang membahas tantangan perubahan iklim serta upaya konservasi keanekaragaman hayati sebagai bagian dari pengelolaan hutan berkelanjutan.
Sesi pertama menghadirkan Dr. Affendy Hassan dari Universiti Malaysia Sabah yang menyampaikan perspektif mengenai pengelolaan kehutanan dalam menghadapi tantangan lingkungan global. Diskusi berlangsung interaktif dengan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang akademik dan negara, sehingga memperkaya pertukaran pengalaman mengenai isu kehutanan di masing-masing wilayah.
Selanjutnya, peserta memperoleh informasi mengenai Program Doktor Fakultas Kehutanan UGM yang dipaparkan oleh Dr. Ir. Hero Marhaento, S.Hut., M.Si., IPM. Sesi ini memperkenalkan peluang studi lanjut, bidang riset unggulan, serta jejaring kolaborasi internasional yang dimiliki Fakultas Kehutanan UGM.
Pada sesi siang, Dr. rer. silv. Ir. Muhammad Ali Imron, S.Hut., M.Sc. membawakan kuliah bertajuk Wildlife Habitat Provision under Climate Change. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak bekerja sebagai ancaman yang berdiri sendiri, melainkan memperkuat berbagai tekanan terhadap habitat satwa liar melalui perubahan rezim kebakaran, gangguan hidrologi, pergeseran musim berbunga dan berbuah (phenology), hingga menurunnya konektivitas habitat. Kondisi tersebut menuntut pendekatan pengelolaan hutan yang adaptif, di mana perencanaan koridor satwa, pengelolaan kebakaran, dan strategi konservasi perlu mempertimbangkan dinamika iklim di masa depan, bukan lagi hanya kondisi historis.
Melalui berbagai contoh kasus di kawasan Asia Tenggara, peserta juga diajak memahami bagaimana perubahan iklim dapat mendorong spesies pegunungan bergeser ke elevasi yang lebih tinggi sehingga ruang hidupnya semakin terbatas, meningkatkan risiko kebakaran lahan gambut yang mengurangi kualitas habitat dan ketersediaan sumber pakan, serta mengubah siklus reproduksi satwa akibat bergesernya waktu berbunga dan berbuah. Diskusi tersebut menegaskan bahwa konservasi satwa liar tidak cukup hanya berfokus pada perlindungan spesies, tetapi juga harus menjaga ketahanan ekosistem agar mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Rangkaian kegiatan hari kedua ditutup dengan pengenalan Program Magister Fakultas Kehutanan UGM oleh Dr. drh. Subeno, M.Sc., sebelum peserta melanjutkan diskusi kelompok dan menyelesaikan tugas harian berupa Topics Review of the Day yang difasilitasi oleh International Forestry Students’ Association (IFSA).
Melalui rangkaian kuliah hari kedua, peserta memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan pengelolaan hutan di era perubahan iklim memerlukan integrasi antara ilmu iklim, ekologi, dan konservasi keanekaragaman hayati dalam satu pendekatan pengelolaan lanskap yang adaptif. Selain memperluas wawasan mengenai tantangan kehutanan global, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenal lebih dekat kapasitas pendidikan dan penelitian Fakultas Kehutanan UGM dalam menghasilkan solusi berbasis sains bagi keberlanjutan hutan dan kesejahteraan masyarakat.
Penulis: Satriagasa
Foto: tim Dokumentasi Forestry Summer Course 2026