Yogyakarta, 14 Juli 2026 – Setelah menyelesaikan rangkaian pembelajaran daring selama lima hari, peserta The X International Forestry Summer Course (FSC) 2026 akhirnya berkumpul secara langsung di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Pertemuan tatap muka ini menjadi momentum penting bagi peserta dari berbagai negara untuk memperkuat jejaring internasional sekaligus memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan melalui interaksi langsung dengan akademisi, praktisi, dan sesama peserta.

Ir. Emma Soraya, S.Hut., M.For., Ph.D., IPU.
Kegiatan hari pertama sesi luring diawali dengan sambutan dari koordinator Forestry Summer Course 2026, Ir. Ni Putu Diana Mahayani, S.Hut., M.For., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta selama mengikuti rangkaian pembelajaran daring serta mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta internasional yang hadir di Yogyakarta. Beliau juga menekankan bahwa sesi luring dirancang untuk memperkaya pengalaman belajar melalui interaksi langsung, diskusi lintas budaya, dan kolaborasi akademik yang lebih erat di bidang kehutanan.
Selanjutnya, peserta memperoleh sambutan dari Kaprodi Program Magister Ilmu Kehutanan, Ir. Emma Soraya, S.Hut., M.For., Ph.D., IPU. Beliau memperkenalkan Program Magister Kehutanan UGM sebagai salah satu program pendidikan yang berkomitmen menghasilkan sumber daya manusia unggul di bidang kehutanan serta mendorong terjalinnya kolaborasi pendidikan dan penelitian di tingkat internasional. Kehadiran peserta dari berbagai negara diharapkan menjadi awal terbentuknya jejaring akademik yang berkelanjutan.
Rangkaian kuliah kemudian dibuka dengan materi The Tropical Forest & The Water Cycle: Managing Watershed Health, from raindrop mechanics to landscape-scale resilience yang disampaikan oleh Dr. Agr. Sc. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., ASEAN Eng. Materi ini menjelaskan peran strategis hutan tropis dalam menjaga kesehatan daerah aliran sungai melalui berbagai proses hidrologi, mulai dari intersepsi tajuk, infiltrasi, perkolasi, hingga pembentukan aliran dasar (baseflow). Peserta diajak memahami bagaimana tutupan hutan yang sehat mampu meredam energi hujan, meningkatkan pengisian air tanah, mengurangi limpasan permukaan dan erosi, serta menjaga ketersediaan air pada musim kemarau. Berbagai studi kasus di Indonesia juga menunjukkan bahwa degradasi hutan dapat mengubah keseimbangan hidrologi suatu lanskap sehingga meningkatkan risiko banjir, sedimentasi, dan kekeringan.

Kuliah berikutnya menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Maria Lourdes T. Lardizabal dari Universiti Malaysia Sabah dengan materi Six-Legged Indicators: How Climate Change Reshapes Forest Insect Communities and the Services They Provide. Paparan ini menekankan bahwa serangga merupakan bioindikator yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan karena siklus hidupnya yang cepat dan ketergantungannya pada kondisi iklim. Perubahan suhu, pola curah hujan, dan meningkatnya kejadian kekeringan dapat mengubah distribusi, kelimpahan, serta komposisi komunitas serangga, yang pada akhirnya memengaruhi berbagai jasa ekosistem seperti penyerbukan, dekomposisi, siklus hara, pengendalian hama alami, dan regenerasi hutan. Peserta juga diperkenalkan pada berbagai kelompok serangga indikator yang dapat dimanfaatkan untuk memantau kesehatan ekosistem hutan di tengah perubahan iklim.
Pada sesi siang, peserta mengikuti kuliah Ecosystem Services of Agroforestry yang disampaikan oleh Prof. Digby Race dari The Australian National University. Materi ini menjelaskan bahwa sistem agroforestri tidak hanya menghasilkan berbagai komoditas seperti pangan, kayu, dan hasil hutan bukan kayu, tetapi juga menyediakan beragam jasa ekosistem, mulai dari penyimpanan karbon, pengaturan tata air, konservasi keanekaragaman hayati, hingga manfaat sosial dan budaya bagi masyarakat. Melalui berbagai studi kasus internasional, peserta diajak memahami pentingnya menyeimbangkan berbagai manfaat (synergies) dan konsekuensi (trade-offs) dalam pengelolaan agroforestri, serta bagaimana instrumen kebijakan seperti Payment for Ecosystem Services (PES), sertifikasi, dan regulasi dapat mendorong pengelolaan lanskap yang lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun lingkungan.

Prof. Digby Race dari The Australian National University
Selain mengikuti perkuliahan, peserta juga memperoleh pengenalan mengenai International Forestry Students’ Association (IFSA) yang disampaikan oleh Presiden IFSA, Nilo Wijaya, S.Hut. Sesi ini memberikan gambaran mengenai organisasi mahasiswa kehutanan terbesar di dunia beserta berbagai peluang kolaborasi, pertukaran pelajar, kegiatan ilmiah, dan pengembangan kepemimpinan yang dapat diikuti peserta setelah program Forestry Summer Course berakhir.
Rangkaian kegiatan hari pertama sesi luring ditutup dengan campus tour di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Melalui kegiatan ini, peserta berkesempatan mengenal lebih dekat berbagai fasilitas akademik Fakultas Kehutanan dan UGM, sejarah universitas, serta suasana kehidupan kampus. Interaksi langsung antar peserta dari 22 negara juga semakin memperkuat semangat kolaborasi, pertukaran budaya, dan persahabatan internasional yang menjadi salah satu tujuan utama penyelenggaraan Forestry Summer Course 2026.
Penulis: Satriagasa
Editor: Budi Mulyana
Foto: tim Dokumentasi Forestry Summer Course 2026
