

Kelompok pertama mengangkat topik “Pengaruh Tekanan Antropogenik terhadap Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan Habitatnya di Kawasan Cagar Alam Pananjung Pangandaran.” Kajian ini diarahkan untuk memahami keterkaitan antara aktivitas manusia dengan perilaku satwa serta kondisi habitat monyet ekor panjang di kawasan konservasi.
Kelompok kedua melakukan kajian berjudul “Potensi Keanekaragaman Hayati di Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.” Melalui pengamatan lapangan, mahasiswa mengidentifikasi potensi biodiversitas sebagai salah satu dasar penting dalam mendukung pengelolaan dan konservasi kawasan.
Sementara itu, kelompok ketiga mengangkat topik “Evaluasi Pengelolaan Padang Rumput Cikamal dalam Mendukung Konservasi Keanekaragaman Hayati di Cagar Alam Pangandaran.” Kajian difokuskan pada kondisi dan pengelolaan Padang Rumput Cikamal serta perannya sebagai bagian dari habitat satwa dan ekosistem kawasan konservasi.
Kelompok keempat mengambil topik “Pengembangan Jalur Interpretasi di Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran.” Mahasiswa mengkaji potensi pengembangan jalur interpretasi yang dapat mendukung fungsi pendidikan konservasi sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung di kawasan TWA.

Pelaksanaan Praktik Jurusan mendapat sambutan baik dari Kepala Resort Konservasi Wilayah Pangandaran BBKSDA Jawa Barat, Kusnadi. Menurutnya, keberadaan mahasiswa yang melaksanakan praktik di kawasan memberikan manfaat tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi petugas pengelola kawasan melalui proses pertukaran pengetahuan.
“Praktik seperti ini memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak karena terjadi pertukaran ilmu. Petugas kami memiliki pengalaman dan pengetahuan di lapangan, sementara mahasiswa membawa perspektif akademik serta informasi baru. Hasil kegiatan mahasiswa juga dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi petugas di lapangan,” tuturnya.
Kusnadi juga menyampaikan bahwa kawasan konservasi Pananjung Pangandaran merupakan salah satu lokasi yang cukup diminati oleh berbagai institusi pendidikan sebagai tempat pembelajaran lapangan. Hingga Desember 2026, sejumlah institusi pendidikan telah merencanakan kegiatan praktik di kawasan tersebut. Ia pun menyambut baik kehadiran mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM sebagai salah satu institusi yang melaksanakan kegiatan akademik di Resort Konservasi Wilayah Pangandaran.
Melalui Praktik Jurusan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan dalam pengumpulan dan analisis data lapangan, tetapi juga memahami kompleksitas pengelolaan kawasan konservasi secara langsung. Interaksi dengan pengelola kawasan menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman bahwa pengelolaan sumber daya hutan membutuhkan integrasi antara ilmu pengetahuan, pengalaman di lapangan, kepentingan konservasi, serta pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara Fakultas Kehutanan UGM dan pengelola kawasan konservasi dalam mendukung pendidikan kehutanan berbasis lapangan serta menghasilkan pengetahuan yang dapat berkontribusi terhadap pengelolaan kawasan konservasi.
Penulis: Satriagasa
Dokumentasi: Tim PJUR KSDH P2 2026
Editor: Budi Mulyana