Yogyakarta, 9 Juli 2026 – Hari ketiga The X International Forestry Summer Course (FSC) 2026 menghadirkan diskusi mengenai peran strategis ekosistem hutan dalam menjaga ketahanan air sekaligus mendukung mitigasi perubahan iklim. Melalui rangkaian kuliah yang disampaikan akademisi dari Thailand, Korea Selatan, dan Hungaria, peserta diajak memahami pentingnya pendekatan terpadu dalam pengelolaan sumber daya hutan.
Sesi pertama dibawakan oleh Assoc. Prof. Dr. Piyapong Tongdeenok dari Kasetsart University, Thailand, yang mengulas peran hutan dalam siklus hidrologi dan penyediaan jasa lingkungan. Materi ini menekankan bahwa pengelolaan daerah aliran sungai yang berkelanjutan menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan air di tengah meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan.
Kuliah kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi kelompok (Focus Group Discussion) yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertukar pengalaman mengenai tantangan pengelolaan sumber daya air di negara masing-masing.

Forest Science (NIFoS) Republik Korea
Pada sesi siang, Dr. Bora Lee dari National Institute of Forest Science (NIFoS), Republik Korea, membawakan materi mengenai Mangrove Carbon Sequestration. Peserta memperoleh pemahaman mengenai peran ekosistem mangrove sebagai penyerap karbon (blue carbon ecosystem) sekaligus pelindung kawasan pesisir dari dampak perubahan iklim.
Rangkaian kuliah hari ketiga ditutup oleh Dr. Andrea Vityi dari University of Sopron, Hungaria, yang membahas pengembangan agroforestri sebagai salah satu nature-based solutions untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan abad ke-21. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa agroforestri bukan sekadar teknik budidaya, melainkan pendekatan untuk merancang kembali lanskap pertanian agar produktivitas dan fungsi ekologis dapat berjalan secara seimbang. Melalui integrasi pepohonan dengan tanaman pertanian maupun peternakan, sistem agroforestri mampu meningkatkan ketahanan terhadap banjir, kekeringan, gelombang panas, erosi, dan kebakaran hutan, sekaligus memperkuat keanekaragaman hayati, menyerap karbon, serta mendiversifikasi sumber pendapatan masyarakat melalui hasil seperti buah, kopi, kakao, kayu, madu, dan tanaman obat.
Melalui kombinasi materi mengenai hidrologi, karbon mangrove, dan agroforestri, peserta memperoleh perspektif yang lebih komprehensif mengenai pentingnya pengelolaan lanskap hutan secara terpadu untuk mendukung ketahanan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Kegiatan hari ketiga ditutup dengan pembagian kelompok dan penugasan Problem Tree Analysis sebagai bagian dari penguatan kemampuan analisis peserta terhadap permasalahan kehutanan global.

University of Sopron, Hungaria
Penulis: Satriagasa
Editor: Budi Mulyana
Foto: tim Dokumentasi Forestry Summer Course 2026