Yogyakarta, 10 Juli 2026 – Hari keempat penyelenggaraan The X International Forestry Summer Course (FSC) 2026 menghadirkan perspektif lintas negara mengenai pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan sektor kreatif dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Melalui rangkaian kuliah dari akademisi dan praktisi internasional, peserta diajak memahami bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologis hutan, tetapi juga oleh tata kelola yang inklusif, kebijakan yang adaptif, serta pemberdayaan masyarakat.
Sesi pertama dibawakan oleh Prof. Takahiro Fujiwara dari Kyushu University, Jepang, melalui kuliah bertajuk Conflict of Legitimacy over Tropical Forest Lands. Dalam paparannya, Prof. Fujiwara menjelaskan bahwa hutan memiliki beragam fungsi, mulai dari penyedia jasa ekosistem, pelindung keanekaragaman hayati, hingga sumber penghidupan bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa penyusunan kebijakan kehutanan perlu mempertimbangkan berbagai kepentingan yang sering kali saling bertentangan, sehingga pengelolaan hutan harus mampu menyeimbangkan aspek konservasi, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan ekonomi.

Kuliah berikutnya disampaikan oleh Lelyana Midora, M.Sc., yang mengangkat tema The Water We Share: Watershed Ecosystem Services in a Changing World. Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa jasa ekosistem daerah aliran sungai merupakan manfaat bersama yang menopang kehidupan masyarakat, mulai dari penyediaan air bersih, pengendalian banjir, hingga nilai ekonomi yang dihasilkan dari pengelolaan ekosistem yang baik. Materi ini menegaskan pentingnya menjaga lanskap hutan sebagai bagian dari upaya mempertahankan ketahanan air di tengah perubahan iklim.

Pada sesi siang, Prof. Jiacheng Zhao dari Central South University, Tiongkok, memaparkan perjalanan panjang pembangunan kehutanan di Tiongkok melalui kuliah China’s Forest Development since 1949. Berbagai kebijakan yang diterapkan selama beberapa dekade menunjukkan bahwa keberhasilan restorasi hutan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui kombinasi reformasi kebijakan, investasi pemerintah, pembangunan ekonomi, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Pengalaman tersebut memberikan pembelajaran mengenai pentingnya visi jangka panjang dalam pembangunan kehutanan berkelanjutan.

Rangkaian kuliah hari keempat ditutup dengan sesi Ecoprint oleh Puthut Ardianto, S.Pd., M.Pd., yang memperkenalkan teknik pemanfaatan daun dan bagian tumbuhan lainnya sebagai pewarna alami pada produk tekstil. Selain memperlihatkan proses pembuatan ecoprint, sesi ini juga menunjukkan bagaimana hasil hutan non-kayu dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat tanpa mengurangi fungsi ekologis hutan.
Melalui rangkaian materi tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan memerlukan pendekatan yang menyeluruh, mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, jasa ekosistem, pemberdayaan masyarakat, serta inovasi berbasis sumber daya alam. Kegiatan hari keempat kemudian ditutup dengan penugasan Topics Summary of the Day sebagai sarana refleksi terhadap materi yang telah dipelajari selama perkuliahan.
Penulis: Satriagasa
Editor: Budi Mulyana
Foto: tim Dokumentasi Forestry Summer Course 2026