Yogyakarta, 11 Juli 2026 – Rangkaian sesi daring The X International Forestry Summer Course (FSC) 2026 resmi ditutup dengan pembahasan mengenai peran agroforestri, pasar karbon, dan tata kelola konservasi global sebagai fondasi pengelolaan hutan berkelanjutan di tengah perubahan iklim. Melalui paparan akademisi dan praktisi internasional, peserta memperoleh perspektif bahwa keberlanjutan sektor kehutanan tidak hanya ditentukan oleh aspek ekologis, tetapi juga oleh tata kelola, kebijakan, pembiayaan, dan keterlibatan masyarakat.
Sesi pertama menghadirkan Dr. Gabriel Facal yang membawakan kuliah mengenai Agroforestry and Agroecology in Southeast Asia. Ia menjelaskan bahwa sistem agroforestri modern tidak sekadar mengombinasikan pohon dan tanaman pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari pendekatan agroekologi yang mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan sains modern melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan tersebut mendorong praktik pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mempertahankan fungsi ekosistem dan keanekaragaman hayati. Peserta juga diperkenalkan pada pentingnya inovasi agroekologi yang mempertimbangkan dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan secara bersamaan.
Selanjutnya, Haryo Ajie Dewanto, S.Hut., M.S., Technical and Business Development Director DASSA, membahas perkembangan Forest and Carbon Market dalam konteks aksi iklim global. Paparan ini menekankan bahwa sektor kehutanan memiliki posisi strategis dalam mendukung pencapaian target Net Zero Emission melalui konservasi hutan, restorasi ekosistem, dan pengembangan proyek karbon berkualitas tinggi. Selain peluang ekonomi yang ditawarkan pasar karbon, peserta juga diajak memahami pentingnya kredibilitas pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (Measurement, Reporting, and Verification/MRV), integritas kredit karbon, serta perlunya memastikan bahwa manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan perlindungan keanekaragaman hayati dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Pada sesi berikutnya, Dr. Mark Herse dari Chiang Mai University menyampaikan kuliah bertajuk Political Ecology of Conservation: The Implications of the Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework. Materi ini mengulas implementasi Global Biodiversity Framework (GBF), khususnya Target 3 (30×30) yang menargetkan perlindungan sedikitnya 30 persen wilayah daratan dan perairan dunia pada tahun 2030. Melalui perspektif ekologi politik, peserta diajak memahami bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada perluasan kawasan lindung, tetapi juga pada tata kelola yang adil, penghormatan terhadap hak masyarakat adat dan komunitas lokal, serta pengelolaan yang mampu menyeimbangkan tujuan konservasi dengan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat. Diskusi juga menyoroti berbagai tantangan implementasi target global tersebut di berbagai negara, termasuk pentingnya memastikan bahwa kebijakan konservasi memberikan manfaat yang inklusif bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan.

Rangkaian pembelajaran hari kelima ditutup dengan Focus Group Discussion yang dipandu oleh Dr. Wanlop Chutipong. Peserta dari berbagai negara mendiskusikan tantangan dan peluang penerapan agroforestri, pembiayaan karbon, serta kebijakan konservasi di negara masing-masing. Diskusi menunjukkan bahwa meskipun kondisi sosial-ekologi setiap negara berbeda, pengelolaan hutan berkelanjutan memerlukan kolaborasi lintas disiplin, dukungan kebijakan yang adaptif, serta kemitraan internasional yang kuat.
Sebagai penutup sesi daring, peserta mengikuti pembagian kelompok dan menyelesaikan Quiz of the Day sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran. Selanjutnya, seluruh peserta dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan luring di Yogyakarta yang meliputi kuliah tatap muka, kunjungan lapangan, praktik pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), serta kegiatan pertukaran budaya yang menjadi ciri khas The X International Forestry Summer Course 2026.
Penulis: Satriagasa
Editor: Budi Mulyana
Foto: tim Dokumentasi Forestry Summer Course 2026