Yogyakarta, 15 Juli 2026 – Memasuki hari kedua sesi luring, peserta The X International Forestry Summer Course (FSC) 2026 mendalami pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan hutan serta strategi konservasi keanekaragaman hayati di tengah tantangan perubahan iklim. Rangkaian kuliah hari ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan hutan tidak hanya ditentukan oleh aspek ekologis, tetapi juga oleh tata kelola yang inklusif, kolaborasi multipihak, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal.
Kegiatan diawali dengan kuliah bertajuk Community-Based Forest Management: Highlighting Successful Models of Local Stewardship yang disampaikan oleh Micah R. Fisher, Ph.D. dari University of Hawaiʻi at Mānoa. Dalam paparannya, Micah mengajak peserta memahami konsep pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat melalui perspektif commons, hak akses, dan tata kelola sumber daya bersama. Peserta diajak melihat bahwa keberhasilan pengelolaan hutan tidak hanya bergantung pada aturan formal, tetapi juga dipengaruhi oleh relasi sosial, akses terhadap sumber daya, serta kelembagaan yang berkembang di tingkat lokal.

dari University of Hawaiʻi at Mānoa
Suasana kelas semakin hidup melalui sesi interaktif yang dipandu langsung oleh Micah. Melalui sebuah permainan simulasi (commons game), peserta merasakan secara langsung bagaimana keputusan individu dalam memanfaatkan sumber daya bersama dapat menentukan keberlanjutan ekosistem. Simulasi tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi, kepercayaan, serta penyusunan aturan secara kolektif mampu mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih adil dan berkelanjutan dibandingkan pengambilan keputusan secara individual.
Materi tersebut kemudian diperdalam melalui Focus Group Discussion yang dipandu oleh Dr. Dwi Laraswati, S.Si.. Dalam diskusi ini, peserta saling berbagi pengalaman mengenai peluang dan tantangan penerapan community-based forest management di negara masing-masing, mulai dari aspek kebijakan, kelembagaan masyarakat, hingga pengelolaan sumber daya alam yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Pada sesi siang, Prof. George A. Gale dari King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Thailand, membawakan kuliah bertajuk Assessing the Impacts of Climate Change on Tropical Forest Birds. Melalui berbagai hasil penelitian lapangan di Thailand, peserta diperkenalkan pada peran penting burung sebagai penyedia jasa ekosistem, antara lain melalui penyebaran biji (seed dispersal), penyerbukan, pengendalian hama, hingga sebagai indikator kesehatan ekosistem hutan. Kuliah ini juga menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi mengubah habitat, memengaruhi interaksi antara burung dan tumbuhan, serta mengganggu fungsi ekologis yang menopang ketahanan ekosistem hutan tropis.

on Tropical Forest Birds
Setelah kuliah, peserta mengikuti Focus Group Discussion yang dipandu oleh Ir. Ryan Adi Satria, S.Hut., M.Sc.. Diskusi dibagi ke dalam lima kelompok yang membahas berbagai topik, meliputi dampak perubahan iklim terhadap hutan di masing-masing negara, jasa ekosistem yang diberikan burung, pemanfaatan burung sebagai indikator kesehatan lingkungan, contoh praktik konservasi yang berhasil, hingga peluang penguatan kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan konservasi di masa depan. Melalui forum ini, peserta dari berbagai negara saling bertukar pengalaman dan perspektif mengenai upaya menjaga ketahanan ekosistem hutan di wilayah masing-masing.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan memerlukan pendekatan yang mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat, tata kelola sumber daya yang adaptif, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Peran masyarakat lokal, didukung oleh ilmu pengetahuan dan kolaborasi internasional, menjadi fondasi penting dalam menjaga fungsi ekosistem hutan sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Penulis: Satriagasa
Editor: Budi Mulyana
Foto: tim Dokumentasi Forestry Summer Course 2026