Getas-Ngandong, 26 Juli 2026 — Praktik Rencana Usaha Kehutanan (PRUK) Gelombang ke-2 Tahun 2026 resmi ditutup pada Minggu, 26 Juli 2026, bertempat di Kampus Lapangan KHDTK Getas-Ngandong. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan dan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan melalui pembelajaran langsung di lapangan.
PRUK Gelombang ke-2 Tahun 2026 diikuti oleh 154 mahasiswa yang melaksanakan rangkaian kegiatan praktik selama kurang lebih dua minggu, pada 14–26 Juli 2026. Selama pelaksanaan kegiatan, mahasiswa memperoleh pengalaman secara langsung dalam melakukan observasi, survei, pengumpulan dan analisis data, serta memahami berbagai aspek pengelolaan hutan dan penyusunan rencana usaha kehutanan dalam konteks nyata di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, Panitia PRUK menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pengelola Kampus Lapangan KHDTK Getas-Ngandong atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan selama kegiatan berlangsung. Ucapan terima kasih tersebut pada acara penutupan disampaikan kepada perwakilan pengelola, Ir. Riansyah Fathoni, S.Hut., yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan praktik sehingga mahasiswa dapat melaksanakan proses pembelajaran lapangan dengan baik.
Apresiasi juga disampaikan kepada para co-ass yang telah mendampingi dan membersamai mahasiswa selama pelaksanaan PRUK. Para co-ass tersebut adalah Yuda Vatra Erlangga, Aulya Ulin Nuha, Mohammad Syamsudin, Fanny Roesmalla Yusnaini, Zhevanya Andreas Siahaan, dan Dela Bintang Wulandari, S.Hut. Dedikasi dan pendampingan para co-ass menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran kegiatan, mulai dari pelaksanaan praktik di lapangan hingga proses pembelajaran dan penyelesaian tugas mahasiswa.
Pada acara penutupan, perwakilan panitia dosen, Hermudananto, menyampaikan pesan kepada seluruh mahasiswa agar pengalaman yang diperoleh selama PRUK dapat menjadi bekal untuk mengimplementasikan ilmu dan teori yang telah dipelajari di kelas. Pembelajaran di lapangan diharapkan mampu memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap kompleksitas pengelolaan sumber daya hutan sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam mengambil keputusan kehutanan secara sistematis, rasional, realistis, dan implementatif.
Sebagai bentuk implementasi sistem pembelajaran empiris-praktis, Praktik Rencana Usaha Kehutanan dirancang untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa secara komprehensif. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu melaksanakan praktik dan menyusun laporan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, adaptif, tangguh, mampu berkomunikasi dan bekerja sama dalam tim maupun dengan berbagai pihak, serta menjunjung tinggi etika akademik, kedisiplinan, dan aturan yang berlaku. Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk memiliki rasa ingin tahu dan jiwa kepemimpinan.
Dari sisi keilmuan, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan berbagai praktik dan preskripsi pengelolaan hutan yang meliputi aspek silvikultur, manajemen hutan, konservasi sumber daya hutan, dan teknologi hasil hutan, serta menggunakannya sebagai pertimbangan dalam penyusunan rencana usaha kehutanan.
Mahasiswa juga dilatih untuk mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menganalisis data hasil observasi maupun survei serta data sekunder yang relevan dengan berbagai aspek pengelolaan hutan lestari. Aspek tersebut mencakup silvikultur, produksi hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK), ekologi, serta sosial-ekonomi, yang selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penyusunan rencana usaha kehutanan.
Kompetensi lainnya yang menjadi capaian penting dalam kegiatan ini adalah kemampuan mahasiswa dalam mengambil keputusan-keputusan kehutanan yang diwujudkan dalam bentuk dokumen dan presentasi verbal rencana strategis usaha kehutanan pada tingkat unit kelestarian. Rencana tersebut disusun secara sistematik, rasional, realistis, dan implementatif dengan berlandaskan pada hasil analisis data dan informasi primer maupun sekunder yang diperoleh selama proses praktik.
Dengan demikian, PRUK tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun keterampilan profesional, kemampuan analitis, kerja sama tim, komunikasi, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Setelah rangkaian praktik lapangan berakhir, mahasiswa akan melanjutkan tahapan kegiatan dengan penyusunan Laporan Akhir, konsultasi dengan dosen pembimbing lapangan, serta ujian pertanggungjawaban. Tahapan ini menjadi bagian penting untuk mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran mahasiswa sekaligus memastikan bahwa pengalaman empiris yang diperoleh selama praktik dapat diterjemahkan ke dalam rencana usaha kehutanan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Melalui PRUK, Fakultas Kehutanan UGM terus berupaya menghadirkan proses pendidikan kehutanan yang mengintegrasikan teori, praktik, pengalaman lapangan, dan pengambilan keputusan berbasis data. Diharapkan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berkontribusi secara profesional dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Rangkaian kegiatan penutupan PRUK Gelombang ke-2 Tahun 2026 kemudian ditutup dengan menyanyikan Mars Rimbawan secara bersama-sama oleh mahasiswa, panitia, co-ass, dan seluruh pihak yang hadir. Momen tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus sarana untuk memupuk semangat, solidaritas, dan korsa rimbawan di antara seluruh peserta kegiatan. Semangat kebersamaan ini diharapkan terus terjaga dan menjadi bagian dari karakter mahasiswa kehutanan dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagai calon rimbawan yang profesional, berintegritas, dan berkomitmen terhadap kelestarian hutan dan lingkungan.
Penulis: Hermudananto
Editor : Muhammad Chrisna Satriagasa, Budi Mulyana