
Fakultas Kehutanan UGM melalui program pengabdian kepada masyarakat oleh Magister Ilmu Kehutanan telah melaksanakan pelatihan dengan tema “PENGENALAN JAMUR KARAT INFASIF Austropuccinia psidii DAN PENANGANANNYA “ di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada hari Rabu, 5 Agustus 2026. Pelatihan diikuti oleh 30 orang peserta, terdiri dari 11 orang staf pengelola TNGM, 9 orang masyarakat sekitar lereng Merapi di bawah binaan TNGM , dan 10 orang dosen, staf, serta mahasiswa S1, S2, dan S3 Fakultas Kehutanan UGM.
Jamur karat jenis A. psidii yang bersifat invasif telah berkembang secara global di seluruh dunia. Pertama dilaporkan di Amerika Selatan, kemudian dengan cepat menyebar dan ditemukan di benua Afrika dan Australia (tahun 2010). Jamur invasif ini utamanya menyerang anggota famili Myrtaceae (jambu-jambuan), yang tersebar luas dan menjadi famili terbesar penyusun vegetasi di banyak benua. Perlahan namun pasti, jamur ini menyebabkan kerusakan jaringan pada tanaman muda, seperti daun muda, pucuk, buah, maupun bunga, serta menurunkan kemampuan tumbuh hingga mematikan tanaman. Berbagai laporan di dunia mencatat bahwa jamur invasif ini telah menyebabkan punahnya beberapa jenis tanaman asli, yang selanjutnya mengakibatkan penurunan biodiversitas berbagai jenis ekosistem di dunia.

Jamur A. psidii terdeteksi pertama kali di Kawasan TNGM pada awal tahun 2023, pada tanaman salam (Syzygium polyanthum), kemudian pada tanaman duwet (Syzygium cumini). Jamur tersebut berkembang cepat, menyebabkan kerusakan, dan menghambat pertumbuhan jenis-jenis pohon tersebut hingga saat ini. Mengingat jenis jambu-jambuan yang bersifat asli maupun nonasli di lereng Merapi banyak tumbuh di Kawasan TNGM, dikhawatirkan dalam jangka waktu yang panjang, jamur ini berisiko merusak dan memusnahkan jenis-jenis pohon tersebut. Beberapa jenis tanaman jambu-jambuan juga banyak yang berfungsi sebagai pakan satwa, baik burung maupun mamalia, sehingga kerusakan pada jenis-jenis tanaman tersebut dapat berdampak negatif pada keberadaan dan populasi satwa di Kawasan TNGM. Oleh karena itu, pelatihan pengenalan dan penanganan jamur invasif ini dipandang sangat perlu dilakukan.

Pelatihan dimulai dengan memberikan qusioner (Pre test) dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi, praktek pengenalan dan penanganan di lapangan, dan diakhiri dengan diskusi penutup serta mengisikan questioner (Post test). Semua peserta pelatihan sangat antusias dan berperan aktif selama mengikuti pelatihan ini. Hasil pengenalan dan praktik penanganan oleh masyarakat maupun staf TNGM di kawasan masing-masing, antara lain Kali Kuning, Cangkringan, Dukun, Musuk, dan Selo , nantinya akan dilaporkan kembali dan dievaluasi bersama pada akhir bulan September 2026. Program pengabdian monitoring jamur invasif A. psidii ini dirancang untuk dilaksanakan minimal hingga 3 tahun mendatang.
Penulis & Dokumentasi: Sri Rahayu
Editor: Budi Mulyana