Gunungkidul, 25 Oktober 2026 — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui kolaborasi program “PohonKu” dan Forestry Study Club (FSC) melaksanakan soft launching program PohonKu di Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (25/10). Kegiatan ini menjadi langkah awal pengembangan program adopsi pohon yang berorientasi pada konservasi tumbuhan, pelestarian keanekaragaman hayati, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kegiatan soft launching PohonKu dilaksanakan bersamaan dengan agenda Kunjungan Instansi Forestry Study Club (FSC) bertajuk “Menyemai Pengetahuan, Menanam Harapan, Menjaga Kelestarian.” Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan kawasan konservasi, tetapi juga terlibat langsung dalam penanaman dan pengembangan koleksi tumbuhan di Tahura Bunder.

Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan Forestry Study Club, Riana Sekar Mawarni, yang menyampaikan pentingnya kegiatan kolaboratif sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus sebagai kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Balai Tahura Bunder, Much. Alex Zuabedi, dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan tim PohonKu, Ir. Hermudananto, S.Hut., M.Sc., IPM, ASEAN Eng.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan tim PohonKu menyampaikan bahwa program ini dikembangkan sebagai sarana untuk memperluas partisipasi berbagai pihak dalam konservasi tumbuhan. Melalui pendekatan adopsi pohon, PohonKu diharapkan dapat membangun hubungan berkelanjutan antara pengadopsi, tanaman yang diadopsi, dan pengelola kawasan konservasi.
Penanaman Kepuh dan Sawo Kecik sebagai Simbol Dimulainya Program
Salah satu rangkaian utama kegiatan adalah penanaman simbolis dua jenis tumbuhan, yaitu Kepuh (Sterculia foetida L.) dan Sawo Kecik (Manilkara kauki). Kedua jenis tanaman tersebut ditanam di Sub-blok 17 dan 18, Arboretum Blok Koleksi Tahura Bunder. Sub-blok 17 memiliki luas 0,15 ha, sedangkan Sub-blok 18 memiliki luas 0,6 ha.
Penanaman jenis ini tidak hanya menjadi simbol upaya pelestarian tumbuhan, tetapi juga mengandung makna filosofis yang erat kaitannya dengan identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai jenis tumbuhan yang keberadaannya perlu terus dijaga, Kepuh dan Sawo Kecik merepresentasikan pentingnya menjaga warisan alam agar tetap lestari bagi generasi mendatang. Sawo Kecik sendiri memiliki nilai historis dan filosofis dalam budaya Jawa, yang kerap dikaitkan dengan makna sarwo becik atau segala sesuatu yang baik, serta nilai kebijaksanaan dan keteladanan. Sementara itu, Kepuh melambangkan keteguhan dan keberlanjutan kehidupan melalui upaya menjaga keberadaan tumbuhan yang memiliki nilai ekologis. Penanaman kedua jenis ini di Tahura Bunder menjadi pengingat bahwa keistimewaan Yogyakarta tidak hanya terletak pada warisan budaya dan sejarahnya, tetapi juga pada komitmennya untuk menjaga kekayaan alam dan biodiversitasnya. Melalui PohonKu, harapan akan tumbuhnya kebaikan, kelestarian, dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan ditanamkan untuk masa depan.

Penanaman ini juga menjadi simbol dimulainya program PohonKu di kawasan Tahura Bunder sekaligus bentuk dukungan terhadap pengembangan koleksi tumbuhan di kawasan konservasi. Kegiatan dilaksanakan melalui koordinasi dengan pengelola Tahura Bunder, dengan memperhatikan kesesuaian jenis tanaman, kondisi lokasi, serta arahan teknis penanaman.
Pengembangan program PohonKu di Tahura Bunder sejalan dengan Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada tentang Pemanfaatan Taman Hutan Raya Bunder untuk Pengembangan Biodiversitas Tumbuhan Daerah Istimewa Yogyakarta, Nomor B/500.4/2176/D5 dan Nomor 2125/UN1/KT/KS/HK.08.00/2026.
Dalam perjanjian tersebut, areal kegiatan pengembangan koleksi tumbuhan di Tahura Bunder mencakup kawasan seluas kurang lebih 8,5 hektare di Blok Koleksi. Kawasan ini menjadi ruang kolaborasi untuk mendukung pengembangan biodiversitas tumbuhan melalui kegiatan konservasi, edukasi, dan pengelolaan koleksi tumbuhan secara berkelanjutan.
Forestry Study Club (FSC) Menjadi Adopter Pertama PohonKu
Soft launching PohonKu juga menandai Forestry Study Club (FSC) sebagai adopter atau pengadopsi pertama dalam program PohonKu, yang dikenal dengan nama Bestree. Inisiatif ini menjadi langkah awal untuk mendorong keterlibatan yang lebih luas dari komunitas, institusi, perusahaan, dan masyarakat dalam mendukung konservasi tumbuhan.
Melalui skema adopsi pohon, para Bestree akan memperoleh laporan perkembangan tanaman, sertifikat adopsi, serta akun pribadi untuk memantau dampak lingkungan dari tanaman yang diadopsi, termasuk estimasi penyerapan karbon dan simpanan air.
Dengan adanya mekanisme tersebut, program PohonKu diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi juga mendorong komitmen terhadap pemeliharaan dan pemantauan tanaman dalam jangka panjang. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan konservasi yang menempatkan keberlanjutan tanaman sebagai aspek penting pasca penanaman.

FSC sebagai adopter pertama diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi adopter berikutnya untuk turut berpartisipasi dalam pengembangan koleksi tumbuhan dan pelestarian keanekaragaman hayati di Tahura Bunder.
Hujan Perdana Menyambut Awal Perjalanan PohonKu
Satu hari menjelang pelaksanaan soft launching PohonKu, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta kembali diguyur hujan setelah beberapa bulan terakhir mengalami periode tanpa hujan yang cukup panjang. Hujan tersebut menjadi momen penuh harapan bagi dimulainya program PohonKu.
Kehadiran hujan diharapkan menjadi pertanda baik bagi pertumbuhan bibit yang ditanam serta mendukung keberhasilan upaya konservasi tumbuhan di Tahura Bunder. Meski demikian, keberhasilan program tetap memerlukan pemeliharaan, pemantauan, dan koordinasi berkelanjutan antara tim PohonKu, FSC, dan pengelola kawasan.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan kegiatan, yaitu menyemai pengetahuan, menanam harapan, dan menjaga kelestarian. Penanaman pohon menjadi langkah awal, sementara keberlanjutan program ditentukan oleh komitmen bersama untuk merawat dan memantau pertumbuhan tanaman.
Melalui kolaborasi tersebut, program PohonKu diharapkan menjadi model partisipasi publik dalam konservasi tumbuhan yang menghubungkan edukasi, aksi lingkungan, dan pemantauan dampak secara berkelanjutan.
Tim PohonKu dan Harapan ke Depan
Program PohonKu dikembangkan oleh tim yang terdiri atas Laras Adisetya Jati W. sebagai Project Leader, Rega Alvino sebagai Marketing, Putri Asika Citranusa sebagai Silviculture Analyst, serta Marvel Agrifa B. M. sebagai Finance & HR.
Pengembangan program ini juga didukung oleh Rasyadwa Arsya sebagai IT Manager dan Frontend Developer, Aqidatul Izzah sebagai UI/UX Illustration Designer, Stella Florencia Doulim sebagai UI/UX Web Designer, dan Hendra Kurnia sebagai Backend Developer.

Dalam kegiatan ini, turut hadir Yuniar Ardianti, S.Hut., M.Arts., selaku Penyuluh Kehutanan Ahli Muda Tahura Bunder beserta tim Tahura Bunder lainnya. Dari PohonKu hadir Rega Alvino sebagai perwakilan tim, sedangkan dari FSC hadir Yolla Nurveta Maharani Atmoko beserta tim Forestry Study Club.
Dengan dimulainya program PohonKu di Tahura Bunder, Fakultas Kehutanan UGM berharap semakin banyak pihak yang bergabung sebagai Bestree atau adopter pohon. Partisipasi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya konservasi tumbuhan, mendukung pengembangan biodiversitas di kawasan Tahura Bunder, serta menumbuhkan kepedulian bersama terhadap kelestarian lingkungan.
Informasi lebih lanjut mengenai program PohonKu dapat diakses melalui Instagram @adopsipohonku.
Penulis: Hermudananto