GUNUNGKIDUL – Hutan Pendidikan dan Pelatihan Wanagama I kembali menjadi rujukan edukasi kehutanan bertaraf internasional. Pada hari Kamis hingga Jumat, 16-17 Juli 2026, Wanagama menerima kunjungan dari peserta The X International Forestry Summer Course (FSC) 2026. Kunjungan lapangan selama dua hari ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi peserta agar dapat belajar secara langsung dan komprehensif mengenai berbagai aspek pengelolaan hutan, sekaligus menjadi wadah observasi nyata terkait penerapan kelestarian hutan.

Pada hari pertama, Kamis (16/7), peserta mendapatkan berbagai materi perkuliahan di lapangan. Sesi diawali dengan perkenalan mendalam tentang sejarah pembangunan Hutan Wanagama yang disampaikan oleh Dr. Ir. Handojo Hadi Nurjanto, M.Agr.Sc. Agenda berlanjut dengan pembelajaran tentang profil dan pembentukan tanah di sekitar kawasan Wanagama. Materi ini membekali peserta dengan pengetahuan tentang dinamika pembentukan dan sifat-sifat tanah hutan, beserta perannya dalam mendukung ekosistem dan kesuburan vegetasi. Melalui observasi lapangan ini para peserta dapat memahami bahwa kualitas tanah merupakan fondasi utama dalam membangun dan menjaga keberlanjutan ekosistem hutan.

Tidak hanya belajar di dalam ruangan, peserta kemudian diajak untuk langsung menyusuri jalur healing forest sekaligus mempelajari pendekatan kemasyarakatan yang selama ini sukses diterapkan oleh Wanagama di area Joglo Wanagama. Setelah jeda siang, peserta bergerak menuju tegakan Jati Mega untuk belajar praktik pemuliaan pohon yang disampaikan oleh Alnus Meinata, S.Hut., M.Sc., Ph.D. Beliau menguraikan rekam jejak Jati Mega, mulai dari seleksi indukan unggul hingga proses pemuliaannya untuk memperoleh materi genetik terbaik. Diskusi juga mencakup berbagai kendala lapangan yang dihadapi, seperti upaya pelestarian sifat genetik, optimalisasi pertumbuhan, serta adaptasi metode silvikultur terhadap kondisi tapak setempat. Tegakan Jati Mega menjadi bukti keberadaan Hutan Wanagama sebagai laboratorium alam yang vital bagi pelestarian genetika pohon dan studi silvikultur.

Menutup rangkaian materi hari pertama, Direktur KHDTK Wanagama I, Dr. Ir. Johanes Pramana Gentur Sutapa, M.Sc.Forest.Trop., secara langsung memberikan pemaparan komprehensif mengenai tata kelola dan manajemen Hutan Wanagama. Pemaparan tersebut menyoroti taktik operasional Wanagama dalam menyeimbangkan fungsinya sebagai area riset, fasilitas edukasi, sekaligus wujud nyata kontribusi akademis bagi masyarakat sekitar.

Memasuki hari kedua, Jumat (17/7), fokus pembelajaran beralih ke aspek perhutanan sosial dan inovasi produk hasil hutan non-kayu. Peserta melakukan kunjungan ke Padukuhan Banaran V untuk belajar mengenai interaksi dengan masyarakat lokal yang dipandu langsung oleh Ir. Ratih Madya Septiana, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM. Sesi ini mengajak peserta mengamati secara langsung kearifan lokal warga dalam mengelola dan memanfaatkan hasil alam secara bijak, sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga melalui metode adaptif. Tidak hanya berdiskusi dengan masyarakat Padukuhan Banaran V, peserta juga mengunjungi area ladang dan peternakan milik warga.

Setelah menyelesaikan observasi dan interaksi di desa, pada siang hari peserta kembali ke Wanagama untuk melakukan praktik pembuatan ecoprint. Sesi praktik yang sarat nilai seni dan kelestarian ini diarahkan oleh Dr. Eng. Rina Afiani Rebia, S.Hut., M.Eng., Ctex. ATI., dan didampingi oleh moderator Stevie Vista Nissauqodry, S.Hut., M.Sc. Praktik ini mendemonstrasikan cara mentransformasi dedaunan dan material organik lainnya menjadi pewarna alami pada medium kain. Lebih dari sekadar kerajinan tangan, sesi ini menunjukkan bahwa diversifikasi hasil hutan bukan kayu mampu menambah nilai ekonomi dari sebuah kain tanpa harus mengorbankan fungsi ekologis hutan.


Rangkaian kegiatan Summer Course ini diharapkan dapat memperluas wawasan peserta terkait implementasi ilmu kehutanan yang aplikatif, inklusif, dan ramah lingkungan.
Penulis dan Dokumentasi : Zulva Ulin – Wanagama
Editor : Budi Mulyana